BERINFAK DI JALAN ALLAH MERUPAKAN KUNCI RIZKI

Posted on

Pengertian Infaq secara bahasa berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk dipergunakan kepentingan orang banyak. Infaq sendiri adalah sunnah bagi seluruh umat muslim, yang berarti bahwa setiap muslim berhak memilih untuk menginfaqkan hartanya atau tidak, berbeda dengan zakat yang merupakan kewajiban.

Walaupun infaq adalah sunnah, namun infaq memiliki ganjaran yang besar bagi orang-orang yang melaksanakannya. Seperti pada firman Allah berikut ini:
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik” [QS. Saba’ (34): 39]

Keutamaan Infaq
Ganjaran Berlipat Ganda Bagi Orang yang Melaksanakannya
Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, sebagaimana di dalam Al-Quran:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [QS. Al-Baqarah (2): 245]

Ciri orang yg bertakwa
Allah SWT berfirman:
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” [QS. Al-Baqarah (2): 2-3]

Pada ayat di atas disebutkan ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan sholat, dan menginfaqkan sebagian rezeki mereka.

Infaq sebagai bekal di akhirat kelak
Pada kehidupan di akhirat kelak, tidak ada satu orang pun yang bisa menolong kita (bahkan termasuk orang tua, sanak saudara, sahabat, dan lain-lain) kecuali amal baik yang kita lakukan selama di dunia. Salah satu amal baik yang akan menolong kita kelak di akhirat adalah infaq, sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim.” [QS. Al-Baqarah (2): 254]

Masih banyak lagi keutamaan infaq selain 3 keutamaan infaq di atas. Namun terlepas dari 3 keutamaan di atas, pada kehidupan riil banyak sekali cerita-cerita tentang balasan Allah yang Maha Pemurah kepada orang-orang yang mau berinfaq. Salah satunya adalah orang yang rutin berinfaq biasanya dimudahkan dalam segala urusannya. Allah telah menjanjikan banyak hal pada orang-orang yang mau menginfaqkan hartanya di jalan Allah, bahwa Allah bukakan pintu rezeki untuknya.

Wallahu a’lam bissawaba

Advertisements

Cryptocurrency dalam Perspektif Islam

Posted on Updated on

Assalamualaikum sahabat hijrah, bagaimana kabar kalian hari ini? semoga sahabat selalu dalam keadaan sehat dan tetap berada pada jalan lurus-Nya. Sahabat hijrah, tema yang akan kita bahas kali ini berkaitan dengan Cryptocurrency atau lebih familiar kita sebut sebagai Bitcoin.

            Pada zaman dahulu, kegiatan tukar menukar barang dengan barang sangat umum dilakukan, yang biasa kita sebut dengan barter. Barter tidak dapat dipisahkan  dari realita kehidupan manusia, hal ini terjadi karena tak ada seorangpun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri.

            Perkembangan zaman melahirkan ide-ide baru, yakni menggunakan alat tukar. Pada mulanya, semua hal dapat digunakan sebagai alat tukar, seperti barang yang memiliki keunikan tertentu, hingga hal yang tidak memiliki nilai intrinsikpun pernah menjadi bagian dari sejarah perkembangan alat tukar. Beberapa diantaranya adalah kerang karena keunikan bentuknya, emas murni karena kesukaran untuk didapat dan masih banyak deretan alat tukar yang pernah digunakan manusia pada masa lampau.

            Pada zaman modern, alat tukar yang lazim digunakan adalah uang. Gambar gedung-gedung, pemandangan alam, hingga kearifan lokal negara tertuang dalam logam dan lembaran-lembaran kertas yang biasa kita gunakan saat ini. Kertas dan lempengan logam dapat digunakan sebagai alat tukar karena adanya kesepakatan sosial walaupun pada dasarnya memiliki unsur intrinsik yang kecil dibandingkan unsur ekstrinsiknya. Ilustrasinya sebagai berikut, pihak yang menukarkan barangnya dengan uang meyakini bahwa uang tersebut dapat diterima oleh pihak ketiga, dan pihak ketiga meyakini bahwa uang tersebut dapat diterima oleh pihak keempat, begitupula seterusnya.

            Melalui ilustrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa alat tukar tidak harus memiliki nilai intrinsik yang tinggi didalamnya atau memiliki keindahan bentuk. Syarat terpenting bagi alat tukar adalah dapat diterima oleh masyarakat umum. Secara terperinci, alat tukar haruslah mudah dibawa kemana saja, mudah disimpan tanpa mengurangi nilai, jumlahnya terbatas (tidak diproduksi berlebih-lebihan), dan yang tidak kalah penting adalah memiliki mutu yang sama. Mungkin inilah yang membuat belakangan ini muncul pemikiran mengenai alat tukar virtual/Cryptocurrency yang populer dengan sebutan Bitcoin. Sebuah alat tukar virtual yang memungkinkan pemilik uang menyimpan uangnya dengan aman dengan sitem blockchain tanpa harus berhubungan dengan birokrasi yang cenderung tidak kondusif saat ini. Blockchain, yakni Teknologi yang terdiri dari blok yang menampung transaksi, masing-masing blok saling terkait melalui kriptografi, sehingga membentuk jaringan. Keunggulan sistem ini adalah masih belum adanya hacker dunia yang mampu menembus sistem. Secara langsung menunjukkan bahwa sistem ini menjamin keamanan bagi penggunanya.

            Bagaimana Cryptocurrency dalam pandangan Islam? Cryptocurrency  jelas berbeda dengan uang (kartal dan giral) yang kita miliki. Mari kita telaah lebih dalam, bagaimana pandangan Islam menenai Cryptocurrency ini. Pada dasarnya, Islam telah mengatur hal ini, dapat kita temui dari hukum mengenai mata uang atau alat tukar dalam syariat terkait dengan rukun jual-beli. Terdapat tiga rukun, yakni: sukarela, setara, dan tunai. Dalam hal sukarela dan setara, secara umum, masyarakat telah setuju bahwa cryptocurrency (berfokus pada bitcoin) telah memenuhi kedua syarat tersebut. Lalu bagaimana dengan syarat yang ketiga? Bukankah cryptocurrency tidak memiliki bentuk riil? Menurut kamus besar bahasa Indonesia tunai berarti tidak bertanggung lagi atau dilakukan secara langsung pada saat transaksi, dan bukan berarti tunai harus memiliki bentuk riil. Jadi, secara hukum dasar dapat disimpulkan bahwa Cryptocurrency (dalam hal ini bitcoin) hukumnya halal.

            Dalam perkembangannya, bitcoin mengalami fluktuasi yang sangat signifikan, mendorong trader yang ingin memperluas area permainannya dalam perdagangan cryptocurrency. Faktanya, beberapa negara telah melegalkan Cryptocurrency bitcoin yangt berdampak pada tingginya minat masyarakat akan bitcoin dan meningkatkan nilai jual Bitcoin itu sendiri. Disinilah awal dari keambiguan  hukum bitcoin itu sendiri.

Pada Desember 2017 lalu Grand Mufti Mesir, Shawku Allam, mengeluarkan fatwa yang mengharamkan bitcoin. Menurutnya, mata uang yang sempat mencapai US$ 20.000 itu mirip dengan judi yang dilarang dalam ajaran Islam. Fatwa itu dikeluarkan setelah melakukan perundingan dengan beberapa ahli ekonomi. Pengunanaan mata uang virtual seperti bitcoin pun dihimbau agar tak diterima di Badan pemerintahan. “Menimpa otoritas negara dalam melestarikan pertukaran mata uang” ungkap Shawki Allam, dikutip dari RT, Kamis (4/1/2018). Grand Mufti menganggap pertukaran perdagangan Cryptocurrency seperti berjudi dengan alasan “karena dampak langsungnya dalam kehancuran finansial untuk individu dan negara,” katanya. Ulama tersebut juga mengungkap dampak lain yang disebabkan oleh Bitcoin. “Memberikan kemudahan dalam pencucian uang dan penyeludupan,” imbuhnya. Pernyataan Allam berkaitan dengan nilai Bitcoin yang terus mengalami naik turun. Per 3 Januari 2018, harga per keping bitcoin mencapai US$ 15.000 atau sekitar Rp 202 juta.

Grand Mufti merupakan sosok ulama yang dianggap memiliki derajat keilmuan dan syariat yang tinggi. Sosok ini memiliki daya analisis yang tinggi berhubungan dengan lingkungan dalam mengeluarkan suatu fatwa. Grand Mufti bukanlah pertama satu-satunya ulama yang mengkritisi keberadaan bitcoin. Pada Desember lalu ulama populer di Saudi Arabia, Asim Al-Hakeem, juga melarang karena dianggap syubhat. Hal inilah yang melandasi Masyarakat Indonesia bahkan beberapa Ulama Indonesia melarang penggunaan bitcoin.

Bagaimana menurutmu sahabat hijrah?  Banyak hal yang akan dibahas dalam Kajian Islam Selasa Sore (KISS) setiap hari Selasa pukul 15.30 WIB di gedung D6 lantai 3 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Mari bersama-sama menjadi insan yang sesuai dengan tuntunan Syariat dan mempertahankan nilai-nilai Keislaman ditengah pergolakan masalah kontemporer yang terus menggerogoti sendi-sendi nilai ajaran Islam. Selamat menjalani aktifitas dan salam author.

MY TIME IS YOURS

Posted on Updated on

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (Q.S. 25:62)

“Waktu ibarat pedang”

“Waktu ibarat uang”

Dalam pandangan islam, telah disampaikan bahwa ciri seorang muslim adalah mereka yang menghargai waktu dan dapat mengelola waktunya dengan baik. Allah SWT telah memberikan kita waktu 24 jam dalam sehari untuk melakukan segala aktivitas kehidupan yakni beribadah, bekerja ataupun istirahat. Sejatinya, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, namun pada praktiknya porsi waktu untuk beribadah tak seimbang dengan aktivitas harian lainnya yang biasa kita lakukan.

Sesungguhnya, waktu adalah suatu nikmat agung pemberian Allah SWT kepada manusia yang sudah seharusnyadimanfaatkan secara efektif dan  semaksimal mungkin untuk amal shalih. Allah SWT berfirman dalam surat Al Ashr ayat 1-3

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Dalam surat Al-Ashr, Allah SWT menunjukkan pentingnya masa (waktu). Sesungguhnya di dalam masa terdapat keajaiban, kesenangan maupun kesedihan. Keutamaan waktu juga telah tersirat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari: “Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, Dia berkata: Nabi Shallahu’alaihi Wa Sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari no. 5933). Hadist ini mengisyaratkan bahwa waktu luang adalah nikmat yang diberikan Allah SWT, namun tak sedikit manusia yang tertipu dan merugi atas waktu luang yang mereka miliki. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana cara kita agar tidak melewatkan waktu dengan sia sia? Apakah sudah maksimal kita mengisi waktu yang Allah berikan? Bagaimana kita mengisi waktu luang kita agar tidak menyia-nyiakan nikmat dari Allah? Mari kita sejenak bermuhasabah diri, sepadankah waktu yang kita gunakan dalam beribadah, bekerja dan beristirahat selama ini? Sudahkah kita memanfaatkan waktu luang sehingga kita tidak tergolong manusia manusia yang merugi?

Sejatinya, seorang  muslim harus pandai mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah dan amalan amalan lainnya. Dalam hubungannya secara horizontal, berkaitan dengan muamalah dengan masyarakat, menunaikan tugas dakwah, maupun hal lainnya. Dalam sejarah Rasulullah SAW dan orang muslim generasi pertama, terungkap bahwa mereka sangat memperhatikan waktu, sehingga mampu menghasilkan ilmu yang bermanfaat dan memunculkan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi.

Sadarlah wahai sahabatku, waktu berjalan laksana awan, dan berlari bagaikan angin. Apabila yang sedang dihayati adalah hari hari gembira, waktumu akan terasa cepat berlalu. Namun, apabila yang kau hayati adalah hari-hari penuh duka, maka masa itu akan terlewat begitu lambat. Pada hakikatnya, hal tersebut hanyalah berakar pada perspektif manusia, bagaimana cara mereka menghayati suatu masa. Ingatlah, tak ada mesin waktu yang dapat memutar kembali waktumu yang kau buang sia sia. Setiap hari yang telah berlalu, tiap jam yang habis, dan setiap kedipan mata yang lewat tak kan dapat diganti.

Sahabatku, Islam telah mengatur bagaimana kita menyikapi waktu yang terdiri dari tiga pandangan, yakni memandang masa lalu sebagai khazanah pelajaran, memandang masa depan dan memerhatikan masa kini, masa yang kita jalani sebagai bekal kehidupan kita nantinya. Oleh karena itu, jadikan waktu sebagai modal. Waktu adalah modal paling indah yang diberikan Allah SWT kepada hambanya.

Dari ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “manfaatkan lima keadaan sebelum datang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa sempatmu sebelum masa sempitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, dan masa hidupmu sebelum datangnya matimu” (HR. Al Hakim dan Baihaki)

 

-NN-

MUSABAQOH TILAWATIL QURAN (MTQ) FE UM

Posted on Updated on

MTQFE

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

MUSLIM STUDI
Subbidang Bakat Minat dan Penalaran BEM FE UM
dengan bangga mempersembahkan~

Musabaqah Tilawatil Quran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang 2017 (MTQFE UM 2017)

Dengan tema:
“Membumikan Kalam Ilahi untuk Menumbuhkan Kreativitas Mahasiswa di Fakultas Ekonomi”

Berbagai lomba bernuansa Islam kami tujukan kepada seluruh Mahasiswa FE UM 🤗
.
Cabang musabaqoh berupa:
1. Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Juz 1
2. Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIA)
3. Musabaqah Tartilil Qur’an (MTrQ)
*)Tema KTIA: “Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani untuk Membangun Karakter Mahasiswa Rabbani”

Tanggal-tanggal penting:
a) 21 Agustus – 17 September : Pendaftaran dan pengumpulan KTIA
b) 18 – 20 September : Penilaian KTIA
c) 21 September : Pengumuman 10 Tim Lolos KTIA Tahap I & No Urut Peserta MHQ dan MTrQ
d) 22 September : Technical meeting
e) 24 September : Pelaksanaan MTQFE

Syarat pendaftaran:
1. Mahasiswa aktif Fakultas Ekonomi UM
2. Cara daftar :
Nama_angkatan_offering_jurusan_no hp_cabang musabaqah kirim ke CP tertera
3. Fotokopi KTM
4. KTIA bisa diikuti oleh individu atau tim dengan anggota max 3 orang
5. Setiap mahasiswa hanya bisa mengikuti satu cabang musabaqah
6. Pengumpulan KTIA ke email muslimstudi1@gmail.com

Bagi Maba 2017
Setiap offering wajib mengirimkan delegasi untuk cabang musabaqah yang dikuasai

Biaya pendaftaran GRATIS 😉

Penghargaan bagi pemenang lomba setiap cabang musabaqoh:
– Uang Pembinaan + Tropi + Sertifikat 🤗
– e-sertifikat untuk semua peserta 😉

📱Contact Person:
Fathin (+6281559762289)
Nazila (+6282140771464)

📱More Info:
MS Center: +6285704081433
IG: @muslimstudi – FP: Muslim Studi
Web: muslimstudi.wordpress.com

*) Setiap perubahan informasi akan dipublish di Official Account Muslim Studi

 

Menjemput Keajaiban Rezeki Dengan Spiritual Enterpreneurship

Posted on

Enterpreneur adalah sifat bisnis, termasuk kemampuan untuk melihat peluang dan keputusan kritis. Dalam bukunya Be a smart and Good Enterpreneur Hendro & Chandra W.W (2006) Entrepreneur adalah suatu kemampuan untuk megelola sesuatu yang ada dalam diri anda untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih opimal sehingga bisa meningkatkan taraf hidup dimasa depan.

Sedangkan Rezeki adalah sesuatu hal yang sudah ditetapkan oleh Allah sebelum manusia diciptakan. Allah ta’ala berfirman didalam surah Ar-Ruum ayat 40 “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali. Adakah diantar kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”

Apabila kita merenungi hakikat dari rezeki, pada dasarnya adalah semua yang ada dilangit,  dibumi,  dan dilautan adalah milik Sang Maha Terpuji, “Kepunyaan Allah-lah apa yang ada dilangit, yang dibumi. Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji (Qs. Luqman ayat 26)”

Semua milik Allah, barang siapa yang ingin menjemput rezekinya yang pasti dengan aturan-aturan, salah satunya adalah dengan berdoa yang diiringi oleh ikhtiar dan kemudian tawakal. Enterpreneurship menjadi salah satu sunnah dari Rosulullah SAW, dimulai dari masa muda Rosulullah yang memang dihabiskan untuk berwirausaha dengan pamannya, kemudian menikah dengan pengusaha kaya pada zamannya yaitu Ibunda Khodijah R.A, yang pasti keberkahan dalam enterpreneurhip diperoleh dari kejujuran, dan kehalalan dalam setiap transaksi serta kehalalan dalam peminjaman modal.

Ada sebuah cerita, beliau merupakan dosen disalah satu universitas di Malang. Disamping menjadi dosen beliau merintis usaha mie original, beliau pernah meminjam modal dengan cara konvensional yang identik dengan bunga dan alhasil pendapatan yang diterimanya dirasa tidak berkah dan hal itu sudah dirasakan atau berlangsung beberapa tahun, kemudian berganti dengan meminjam modal dengan cara syariah yang identik dengan bagi hasil dan alhasil usaha beliau masih bertahan sampai sekarang dan dirasa semua yang diproduksi berkah. Itulah nikmatnya dalam berwirausaha yang melewati jalur halal, karena didalam hal-hal yang kita lakukan semua diridhoi oleh Allah SWT.

Berbicara tentang enterpreneurship, selalu tertuju pada salah satu sahabat Rosulullah yang dijamin masuk surga yaitu Abdurrahman bin Auf yang ketika berhijrah ke Madinah, beliau meninggalkan segala hartanya di makkah, sehingga dimadinah beliau tidak memiliki harta. Pada saat itu setiap kaum pendatang dari makkah  dipersudarakan denga orang madinah (karena bukan Abdurrahman bin auf saja yang mengungsi) agar tempat pendatang bisa bernaung. Abdurrahman bin Auf ini dipersaudarakan dengan seorang ansor yang kaya dengan memiliki banyak istri yang cantik, suatu hari saudara ansor ini bertanya:

“wahai saudaraku, akan kubagi separuh hartaku untukmu, dan kuceraikan salah satu istriku untuk kau nikahi” kemudian Abdurrahman bin Auf menjawab “semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu, tapi cukup tunjukan kepadaku dimana letak pasa” kemudian seorang anshorpun menunjukannya pasar, dan yang terjadi adalah Abdurrahman bin Auf sukses. Hikmah yang dapat diambil dari kisah abdurrahman bi Auf ini adalah sukses dalam bisnis yang halal dan di ridhoi oleh Allah SWT.

Menjadi enterpreneur, merupakan salah satu cita-cita semua orang, namun ketika sebuah cita-cita sudah tercapai yang terjadi dilingkungan masyarakat adalah mereka lupa bahwa itu semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. dimana Allah memerintahkan manusia untuk meninggalkan jual beli apabila seruan pada hrai jumat sudah dimulai (QS Jumu’ah: 9). Namun hal ini tidak hanya berlaku pada hari jumat, tetapi berlaku ketika Allah sudah memanggil untuk melaksanakan kewajiban yaitu shalat lima waktu yang sudah jelas-jelas diperintahkan oleh Allah SWT.

Seperti yang disampaikan oleh Umar bin Khatab “ jangan masuk pasar jika tidak tau ilmu”

Disini yang dikhawatirkan Umar bin Khatab adalah ketika seorang wirausaha yang tidak faham dengan ilmu transaksi jual beli dan berada di dalam pasar maka yang terjadi adalah menghalalkan segala cara agar mendapat pendapatan yang tinggi, misal menggunakan akad yang salah, tidak jujur dalam jual beli serta menggunakan jalan yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT, itulah sifat dari manusia yang tidak puas dengan apa yang sudah Allah kasih untuk kita, semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur.

“semoga bermanfaat”

Askarullah”

Tentang Hutan…

Posted on Updated on

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting. Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar. Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika kita berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan lembap, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari hutan. Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat tumbuhnya berbagai tanaman. (https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan)

Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber daya hutan terbesar di dunia. Banyak sekali spesies tanaman yang terdapat di dalam hutan Indonesia. Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia.

Upaya perlindungan dan pengamanan hutan adalah bukan semata-mata tanggung jawab dan tugas pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab dan tugas seluruh warga masyarakat. Meskipun demikian, tanggung jawab dan tugas ini masih cukup berat untuk kita emban bersama apalagi kegiatan perlindungan hutan ini tidak hanya mencakup kawasan konservasi saja, tetapi juga mencakup kawasan hutan produksi, hutan lindung dan kawasan hutan lainnya. Dengan semua keterbatasan yang ada, upaya perlindungan dan pengamanan hutan harus tetap dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

bukti nyata, mengapa hutan harus dilestarikan. Jika tidak ada hutan, tidak akan ada macam-macam flora dan fauna yang tersebar. Jika tidak ada flora dan fauna, sumber daya manusia tidak dapat bertahan hidup. Jika hutan tidak ada akan terjadi banyak bencana alam, tidak akan ada siklus udara yang baik, karena flora mengeluarkan gas O2 dan Co2 yang berfungsi untuk perputaran siklus udara. Sumber daya hutan tidak hanya berguna sebagai siklus udara saja, tetapi hutan juga dapat berfungsi sebagai mata pencaharian. Banyak barang-barang hutan yang ditemukan dan dapat dijadikan sumber mata pencaharian, Contoh : kayu jati bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal dan dapat digunakan untuk membuat kursi,meja,mabel, bahkan untuk memperindah rumah. Selain itu, Hutan penghasil getah sudah dimanfaatkan dan dijadikan sebagai kertas juga dapat dimanfaatkan dan dikelola menjadi karet.

Ada empat faktor penyebab kerusakan hutan itu:

  1. penebangan yang berlebihan disertai pengawasan lapangan yang kurang,
  2. penebangan liar,
  3. kebakaran hutan dan
  4. alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman.

Selain itu, lemahnya pengawasan lapangan penebangan resmi juga memberi andil tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia.

 

“LAPIS-LAPIS CINTA”

Posted on

PARADE MOTIVASI DAN INSPIRASI

Ahad, 12 Februari 2017 @Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang

llc