Nasihat Seorang “Ayah” pada Anak-anaknya

Posted on

???????????????????????????????Tubuh lembaga dakwah layaknya sebuah rumah. Dia harus menjadi peneduh dikala terik matahri, dan menjadi pelindung dikala hujan menghampiri serta menjadi selimut dikala dingin malam mulai mendatangi.
Antum pasti sangat faham bagaimana susunan dan karakteristik sebuah rumah. Minimal, yang bisa kita (antum dan ana) fahami bersama bahwa setiap rumah akan terdiri dari beberapa kamar yang di dalamnya dihuni oleh beberapa orang.
Kamar rumah antum akan dihuni oleh keluarga antum yang setiap hari berada dirumah yang menetap sebagai penghuni. Sama seperti kamar kontrakan atau kost-kostan yang antum diami saaat ini. Jika setiap jiwa kita merasa memiliki akan keberadaan sebuah rumah dengan segala isi serta kamar-kamarnya, maka harus sama seperti itulah rasa memiliki kita terhadap lembaga dakwah dengan segala isi dan segala problematika kehidupan yang senantiasa setia mengiringi setiap detik perjalanannya.

Maindset kita terhadap Lembaga dakwah harus sudah bertransformasi dari kita yang hanya memahami bahwa lembaga dakwah sekedar lembaga tempat orang-orang yang akan ditempa menjadi sholeh dan sholihah menuju pemikiran yang lebih luas yakni lembaga dakwah yang menjadi rumah dan tempat tinggal orang-orang sholih dan sholihah yang mereka akan mengajak dan membawa orang lain menuju pada sholih dan sholihah pula, yang pada akhirnya yang diajak pada ke sholihan dan kesholihahan itu juga mengajak orang lain lagi untuk mereka make up menjadi orang-orang sholih dan sholihah berikutnya sampai denyut nadi dunia ini berhenti. Karena dakwah adalah proyek yang sangat panjang dan memerlukan kesbaran, bisa jadi apa yang kita perjuangkan sepenuh hati hari ini kita tak akan menikmati hasilnya hari ini pula karena Allah hanya melihat kesabaran dan kesungguhan perjuangan kita.
Mungkin, yang akan menikmati manisnya buah dakwah yang kita tanam saat ini adalah anak atau cucu-cucu kita, atau bahkan cucunya para cucu kita.
Kembali lagi pada apa yang ana analogikan di atas yaitu lembaga dakwah layaknya sebuah hunian (rumah, kontrakan, kost-kost.an), maka itu pula yang bisa kita lihat pada lembaga dakwah tercinta kita yakni Muslim Studi.
Muslim Studi haruslah menjadi rumah besar kita tempat memperbaiki diri, manjaga kebaikin orang lain, membaikkan orang lain, dan terus selalu membawa orang lain pada kebaikan. Cinta kita terhadap Muslim Studi haruslah sama seperti cintanya kita pada rumah dimana kita tinggal di dalamnya meskipun konteksnya tidaklah sesederhana dan sekecil itu.
Cinta kita terhadap Muslim Studi ini adalah cinta besar, sebesar cinta kita terhadap keberlangsungan dakwah ini ke depan.
Jika bukan kita yang mencintai Muslim Studi sebagai sebuah lembaga dakwah, lantas siapa yang akan mencintainya ?
Kita sudah tak bisa berharap banyak terhadap pemuda-pemudi Muslim di luar sana, yang kelakuannya semakin hari semakin manyayat hati nurani.
Karena yang dipilih oleh Allah adalah kita semua untuk membesarkan dakwah melalui payung lembaga dakwah bernama Muslim Studi ini, kita harus bersyukur dan berbangga karena Allah-lah yang memang menyeleksi hamba-hambanya yang terpilih guna memperjuangkan risalah kebenaran sampai akhir zaman. Tugas kita salah satunya adalah bagaimana membuat orang-orang yang belum terpilih di luar sana menjadi orang-orang yang kemudian berada sebaris dengan kita tentunya di barisan para pendakwah yang semangatnya tak bisa di matikan dengan apapun.
Pertanyaannya sekarang adalah Apa korelasi antara Muslim Studi, Lembaga Dakwah dan Rumah Kediaman?
Kita jabarkan satu-persatu, Muslim Studi adalah rumah yang di dalamnya terdapat kamar-kamar yang kita sebut sebagi divisi. Jika hati dan jiwa kita jernih menyikapi, maka kita tidak akan hanya hidup berbangga apabila divisi yang kita tempati berprestasi layaknya kita bahagia ketika kamar yang kita tempati bersih, wangi dan tertata rapi.
Jika salah satu divisi memiliki sebuah prestasi, maka anggota divisi lain haruslah sama bahagianya karena pada dasarnya kita hidup dalam satu rumah hunian yang nyaman dan asri.
Nah, jika salah satu divisi tak pernah berprestasi maka tugas kita semualah untuk membenahi layaknya kita yang merasa tak nyaman jika ada salah satu kamar di rumah kita kondisinya kotor, baud an acak-acakan.
Kader dakwah itu sudah wktunya memikirkan bagaimana memberishkan dan merawat rumah itu bersama-sama tanpa mengedepankan ego bahwa “kamar ana saja yang harus selalu bersih”. Kader dakwah itu harus merasa tak nyaman jika melihat salah satu kamar di rumah ada yang kotor, dan tanpa menunggu perintah setiap jiwa kita harus terpanggil untuk segera bergegas membersihkan kamar itu.
Sama persis dengan Muslim Studi ini, kita harus merasa saling memiliki, saling bersaudara, saling peduli antara satu divisi dengan divisi yang lain.
Jika selama ini dalam fikiran kita hanya ada “satu kamar” yang kita merasa itu adalah milik kita, maka mulai detik ini kita harus berubah total menjadi pribadi yang merasa memiliki “satu rumah” dengan kamar-kamar yang wajib kita jaga bersama kebersihan dan kenyamanannya.
Yang kedua adalah Muslim Studi dan Lembaga Dakwah. Jika Muslim Studi adalah sebuah rumah dengan banyak divisi yang layaknya seperti kamar, maka lembaga dakwah juga sama yakni ibarat sebuah rumah besar dan Muslim Studi adalah salah satu kamar diantara ribuan kamar yang berada di dalam rumah besar itu.
Ana ingin kita semua mencatat tebal-tebal bahwa kita adalah generasi dakwah, generasi yang memang dipilih oleh Allah. Ada yang dari SMA tak mengenal Rohis, SKI, atau lembagi dakwah, akan tetapi dibangku kuliah bisa berada satu baris dengan barisan para pendakwah, kita harus tahu bahwa itu adalah Nikmat dari Allah yang hukumnya WAJIB untuk kita syukuri.
Atau adalagi yang dari SMAnya sudah berada pada barisan orang-orang sholih dan sholihah, ketika di bangku kuliah Allah masih tetap menjaga dengan memasukkan pada barisan yang serupa. Maka sekali, itu manjadi WAJIB hukumnya untuk disyukuri sebagai salah satu nikmat dari Allah.
Kembali pada Muslim Studi tercinta, mungkin diawal masuk Muslim Studi tak ada masalah jika kita hanya mencintai salah satu divisi saja akan tetapi di usia kita bergabung yang kalau ana boleh katakan adalah usia yang sudah matang untuk berdakwah, yang harus terpatri pada setiap jiwa kita adalah mencintai Muslim Studi dengan sepenuh hati dan pada babak selanjutnhya, jiwa kita adalah jiwa-jiwa yang kemudian Mencintai dakwah dengan sepenuh jiwa dan raga.
Terakhir, ana hanya mengingatkan bahwa kita semua adalah generasi pilihan maka jalinilah pilihan itu dengan jiwa yang ikhlas dan raga yang ikhlas pula, inshaAllah hadiah Allah pasti akan kita terima entah di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam

Ikhwah Fillah, kita harus selalu bersama.
Bersama dalam tawa kesenangan,
Bersama dalam indahnya tangis haru kebahagiaan,
Mudah-mudahan apa yang kita ikhtiarkan
Adalah jalan menuju kebersamaan kita kelak di Syurga yang kekal

25-06-1435 H

2 thoughts on “Nasihat Seorang “Ayah” pada Anak-anaknya

    Zhyla Ismi said:
    May 1, 2014 at 08:41

    Seandainya kalian tahu.
    Bermertamorfosis yang lebih baik itu indah.
    #ILove #MuslimStudi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s