Nasumi, Lembaran Cinta dari Nagano

Posted on

            Pandangannya tertuju pada kalender di meja belajarnya. Hari ini adalah ketiga kalinya ia melihat angka 30 pada kalender duduk itu, semenjak Nasumi terakhir datang. Ia tak tahu persis apakah itu benar-benar yang terakhir. Dibukanya sebuah kotak biru tempat ia menyimpan lembaran-lembaran Nasumi yang sejak tadi berada di hadapannya. Nasumi (Nagano Surat Misterius), memang seperti itulah Amanda menamai lembaran-lembaran surat misterius dihadapannya, sebab ia tak tahu siapa sebenarnya yang selama ini selalu menulis dan mengirim surat-surat itu. Yang jelas si pengirim adalah seseorang dari Nagano, sebuah kota di Jepang yang berada di sebelah Utara Osaka. Akan tetapi si pengirim tahu betul tentang Amanda, pun tentang nama panggilan kecilnya, Oping.

Ah, siapapun Nasumi itu yang pasti telah membawa perubahan dalam diri Amanda. Awalnya ia tak peduli dan hanya menganggapnya sekadar orang iseng belaka. Namun rangkaian kata dalam Nasumi itu bagaikan alarm untuknya, juga bagaikan pesawat kertas yang membawanya terbang ke Negeri Sakura.  Nasumi sering bercerita tentang kota Nagano, yang dipenuhi perbukitan dan olimpiade musim dinginnya yang terkenal.

“Tuhan, seperti inikah caraMu membuatku tertarik dengan ayat-ayat cintaMu? Terima kasih Allah, Engkau peduli disaat aku tak peduli padaMu. Terima kasih pula untuk Nasumi ini.” Ucapnya lirih sembari memerhatikan lembaran Nasumi.

Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu dari luar kamarnya menggugah bayangan Amanda tentang Nasumi. Bergegas ia membuka pintu. Betapa terkejutnya ia setelah seseorang di balik pintu itu. Seorang wanita berpostur tinggi berjilbab coklat. Ia adalah saudara sepupu akrabnya yang telah sekian lama tak bertemu, dan sekarang berada tepat di hadapannya.

“Assalamu’alaikum, bu dokter.” Sapa wanita itu dengan senyum lebarnya.

“Masyaallah. . Mbak Gina. Wa’alaikumussalam warahmatullah, masih besok mbak. Jadi, belum dokter.” Katanya girang. Tidak heran jika Amanda begitu senang melihat Gina, karena mereka begitu akrab meskipun hanya lewat ponsel. Gina tahu betul tentang Amanda, begitu pun tentang perubahannya.

“Oalah Ping, ini benar kamu? Oping yang selama ini aku kenal? Subhanallah. . cantik benar kamu, Ping. Lebih cantik dari yang mbak bayangkan.” Gina kagum begitu melihat Amanda. Ia amati adik sepupunya itu dari atas hingga bawah. Gadis berlesung pipit itu hanya tersenyum mendengar ucapan kakak sepupunya.

“Aku kemari karena aku tak mau melewatkan momen kamu mengenakan toga besok, Ping. Oya, kemana tuh celana jeans bolong-bolongmu dua tahun yang lalu? Terakhir aku melihatmu memakainya. Wah..wah..wah, rupanya si kepompong telah menjadi kupu-kupu yang sangat indah ya sekarang.” Kata Gina, bermaksud meledek.

“Yee, Mbak Gina apaan sih. Memangnya mbak nggak suka ya lihat adeknya yang manis dan cantik ini menjadi tambah cantik? Ibarat kue nih mbak, aku nggak mau jadi kue cucur pinggir jalan lagi. Hehe..”

“Tuh kan, mulai deh lebaynya. Aku jadi penasaran sama Nasumi-mu itu, Ping. Nampaknya lembaran kertas itu telah merubahmu.”

“Menurutku ia hanya perantara, mbak. Aku seperti ini karena Allah yang telah menggerakkan hatiku.” Amanda memerlihatkan lembaran kertas Nasumi itu kepada Gina. “Lihatlah mbak surat terakhirnya ini!”

… proses mendidik hati tidaklah semudah menenun kain yang indah, hai saudaraku. Diperlukan kesabaran dan mujahadah. Memerbaiki diri menjadi lebih baik, itu perlu..jika kita menginginkan yang baik pula.

            “ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (Qs. An Nur:26)

            Saudaraku, seperti jika kita di sini ingin melihat mekarnya bunga-bunga sakura. Harus sabar menanti datangnya musim semi. Hhmm.., aku berharap suatu saat nanti kau ada di sini.

                                                                                        Saudaramu dari Nagano

Di tengah keasyikan mereka berbincang-bincang, ibu Amanda datang menghampiri dengan membawa sebuah amplop.

“Ping, ada surat untukmu nduk. Ibu baca alamat di amplopnya dari Nagano, Jepang.”

“Yang benar bu? Makasih ya bu ya. Terlihat raut wajah Amanda yang begitu senang. Ia yakin surat itu adalah Nasumi. “Oya bu, di depan seperti ada tamu? Siapa bu?” Lanjutnya bertanya kepada ibunya.

“Iya nduk. Sepertinya teman ayahmu. Ibu juga baru mau ke depan. Ya sudah, kamu di sini saja ndak apa-apa.”

Assalamu’alaikum,

Saudaraku, semoga surat ini engkau baca tepat pada waktunya. Rupanya akhir-akhir ini kau tampak bahagia sekali. Bidadari dunia, kau sudah siap?

                                                                                        Saudaramu dari Nagano

“Mbak Gina, yang benar saja, aku tak mengerti apa maksud Nasumi ini. Tak biasanya ia hanya menulis sesingkat ini. Coba deh mbak lihat!” Amanda menunjukkan Nasumi yang dipegangnya dengan rasa bingung.

Gina tak berucap apa-apa. Beberapa saat kemudian ibu Amanda kembali menghampiri mereka berdua.

“Nduk….” Panggil ibu Amanda yang tampak tersenyum-senyum.

“Ada apa bu? Ibu kok senyum-senyum seperti itu?”

“Gini nduk, kamu sekarang ke ruang tamu ya. Cah bagus yang ada di depan sana, ia… ia ingin…” Perkataan ibu Amanda terputus.

“Cah bagus siapa bu? Dan ingin apa?” Tanyanya penasaran.

“Ingin melamarmu, nduk.” Jawab ibunya jelas.

Seketika jantung Amanda berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya ia dilamar. Tak ada satu kata pun yang terucap darinya setelah mendengar apa yang baru saja ibunya sampaikan. Mereka menuju ruang tamu. Betapa terkejutnya ia setelah melihat sekilas pria yang sedang bersama kedua orang tuanya di ruang tamu. Ia mengenal betul pria itu. Perasaannya semakin tak karuan. Segera ia menundukkan pandangan dan duduk di samping ibunya.

Setelah mereka mengungkapkan maksud kedatangannya ke rumah Amanda, Amanda  pun memohon izin untuk memberi sebuah pertanyaan kepada si pria.

“Maaf, sebelum saya menjawab, bolehkan saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada saudara Fatih?”

“Silakan ukhti.” Jawab pria itu sambil menundukkan pandangan.

Amanda mengambil nafas pendek  sebelum memulai bertanya. “Saudara Fatih, mengapa antum melamar saya?” Suasana menjadi hening sejenak.

“Karena saya mencintaimu karena Allah, ukhti.” Air mata Amanda menetes.

Beberapa saat kemudian Amanda berkata, “Aku menerimamu, wahai calon imamku untuk akhirat.”

Suasana haru menyelimuti seisi rumah. Apakah ini yang dimaksud Nasumi beberapa saat lalu? Hari ini ia begitu bahagia. Meskipun sebelum berhijrah seperti saat ini Amanda adalah seorang gadis yang belum mengenal dan paham akan agamanya sendiri, akan tetapi ia tak pernah mengumbar perasaannya kepada lelaki lain. Ia tahu bahwa Fatih sejak SMA adalah pria yang tidak neko-neko, pandai, dan seorang aktivis dakwah. Mahabbah yang selama ini ia kubur, kini sudah waktunya ia menggali kembali.

Menjelang adzan ashar, keluarga Fatih berpamit pulang. Air mata Amanda tak terbendung dalam sujud asharnya. Kakak sepupunya yang semenjak tadi juga menemaninya belum berkata apapun, selain hanya mengelus-elus bahu Amanda sembari melontarkan senyum. Amanda mengerti isyarat kakaknya itu.

Tok, tok, tok. Lagi-lagi suara ketukan pintu. Segera ia mengusap air matanya. Dengan kedua mata yang masih memerah, Amanda keluar untuk melihat siapa yang datang.

Seorang wanita seumurannya berdiri di depan pintu rumah, dengan jilbab hijau tuanya yang sedikit berkibar terkena tiupan angin.

“Assalamu’alaikum, saudaraku.” Salam wanita itu dengan senyum manisnya.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Maaf, mbak siapa dan mencari siapa ya?”

“Hapus air matamu, ukhti. Apakah kau benar-benar tak ingat dengan sahabat penamu ini? Bukankah kau tadi baru saja membaca suratku?”

Setelah Amanda amati dengan serius wanita itu, ia pun sadar. Ternyata ia sangat mengenalnya, dan berkata, “Masyaallah..apakah kamu Himei? Sahabat kecilku yang paling tomboi?” Air mata Amanda mengalir kembali. Langsung dipeluknya Himei, sahabat yang berpisah saat kelas 2 SMP. Ia tak tahu kemana sahabatnya selama ini berada.

“Hei, kau dulu juga tomboi, Ping.”

“Tetapi tidak setomboi kamu. Maafkan aku, Himei. Aku begitu mudahnya melupakanmu. Sedangkan engkau…. Jarak tak menjadi halangan bagimu untuk tidak peduli padaku.”

“Aku menemukan cahaya, wahai saudaraku. Mana mungkin aku melupakanmu ketika aku menemukan cinta di atas cinta. Karena jarak kita yang jauh, untuk itu aku kirim engkau lembaran-lembaran surat itu. Tetapi rupanya kini engkau sudah tak membutuhkannya lagi. Tak perlu Nasumi lagi kan untuk menjadi bidadari dunia dan mendapatkan yang terbaik?” Jawab Himei sembari tersenyum. Tak terasa air matanya pun jatuh.

“Tunggu dulu. Tetapi bagaimana selama ini engkau bisa tahu apa yang terjadi padaku? Termasuk nama yang aku berikan untuk surat-suratmu dan juga mengenai Fatih?” Amanda melepaskan pelukannya.

“Kakak baik hati di sebelahmu itu yang memberiku informasi.” Himei mengarahkan pandangannya kepada Gina. “Mengenai Fatih, kau rupanya benar-benar sudah lupa ya, bahwa ia adalah saudara nenekku? Sudah dari jauh hari ia menyampaikan keinginannya tadi padaku.” Lanjutnya.

“Ping, maafkan mbak ya. Mbak tidak bermaksud berkhianat, tetapi mbak tahu cerita kalian saat kalian bersahabat waktu kecil dulu. Sehingga mbak percaya padanya.”

“Oh ukhti, sahabat macam apa aku ini. Maafkan aku. Terima kasih atas lembaran-lembaran cinta yang kau tujukan padaku itu.” Amanda kembali memeluk Himei dan Gina.

Penulis : Ana Zara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s