Kalau Saja

Posted on Updated on

Picture1

Peralihan musim kemarau menuju musim hujan menjadi penghujung sang perindu menengadahkan tangannya menanti Rahmat-Nya. Pohon-pohon perhiasan kampus terus menari terbawa alunan angin yang mengalir dan bertambah kencang saat senja mulai menyapa. Disudut taman terlihat sepasang pemuda dengan gaya khas aktifis RoHis sedang berbincang

Baik : “Tidak terasa ya akh kurang 1,5 bulan lagi Tablik Akbar akan terlaksana?”

Sabar : “Iya akhi, semakin hari kerutan dikening ana terus bertambah memikirkan TA. Uang yang sekarang kita pegang masih sangat jauh dari yang kita butuhkan, rasanya seperti tidak mungkin kita mampu mengumpulkan 20 jta dalam waktu sesingkat ini…”
Terdengar helaan nafas yang begitu berat.
Baik: “Hahaha…. Antum ada-ada saja akhi… Ana faham, tapi antum harus tetap optimis dong!!! sebagai PJ HumDan ana akan berusaha semaksimal mungkin untuk mensukseskan acara ini. Kita hanya mampu berusaha untuk hasil kita serahkan ke Alloh saja”

Sabar adalah ketua umum dari LDK Al Ikhlas, Baik adalah Kepala Divisi Syiar. Dalam acara OH Al Ikhlas Alloh mempertemukan Sabar dan Baik. Siapa yang mengira sebelumnya dua anak yang terlahir dari dua daerah yang terpisah sangat jauh sekarang menjadi saudara seiman yang saling mencintai karena Alloh. Selama tiga tahun bersaudara tidak pernah teman-teman sesama aktifis melihat mereka bertengkar, ya walupun terkadang dalam beberepa hal mereka berbeda pendapat.

Esok harinya, diiringi kedipan mentari yang masih malu menampakan wajahnya Sabar sudah bersiap berangkat ke Kampus. Hari itu dia memang sengaja berangkat lebih awal karena ada Syura dengan panitia TA. Tepat pukul 06.00 syura dimulai, dengan dipimpin langsung oleh Baik. Banyak ide-ide luar biasa yang mengalir saling melengkapi untuk menyempurnakan TA. Salah satunya hasil syura pagi itu, KeTum dan PJ acara akan silaturahim ke perusahaan minuman ringan yang tidak lain pemiliknya adalah alumni dari Al Ikhlas. Baik mendapat tugas untuk menghubungi Akhi Abdullah , sedangkan Sabar mempersiapkan proposal dan PPT untuk dipresentasikan.

Baik : “Gimana akh, sudah dapet kabar dari mas Abudullah kapan kita bisa datang ke Perusahaannya?”
Sabar: “ Alhamdulillah sudah akh, kita diminta kesana besok Jumat jam 08.00 bertemu beliau dan skretarisnya. Kita langsung ketemu di lokasi saja y?”
Baik : “Oke, proposal sudah ane perbaiki. Tinggal buat PPT nya saja.”
Sabar : “Kalo gitu ane duluan, ane mau ketemu sama CO Acara. Assalamu’alaikum…”
Baik : “Oke… Wa’alaikumsalam…”

Hari Jumat yang ditunggu datang, pkl 07.00 Baik sudah siap diatas sepeda motor kesayangannya. Walaupun matanya masih berat karena semalam harus lembur bahan presentasi, namun ada api unggun semangat yang menjadi pembakar kantuk. Berpayung awan putih dan gemuruh kendaraan di jalanan Baik terus mengarahkan kendali menuju perusahaan mas Abullah. Di lokasi Sabar sudah tiba dari pkl 07.30. Sambil menunggu dia mencoba menghubungi Baik, Dalam pesan singkat: “Assalamu’alaikum, akhi antum sekarang sampai mana? G lupa kan, kl pgi ini qta ada janji dengan mas Abdullah? Ane sudah di lokasi ni”

Sepuluh menit ditunggu tidak ada balasan, Sabar mencoba telephon namun tidak ada jawaban. SMS awal dikirim sampai lebih dari 5 kali, hasilnya nihil. Dilihatnya lagi jam kantor, jarum panjang sudah meloncat keangka satu.

Mas Abdullah : “Ayo de bisa dimulai sekarang? Soalnya jam 08.30 saya dan skretaris harus keluar.”
Sabar : “Bentar ya mas saya masih menunggu Baik, proposal dan bahan presentasi dia yang pegang.”

Mas Habibi : “Oke kita tunggu kalau gitu.”

Dengan senyum ramah, mas Abdullah kembali kedalam ruangan. Sementara Sabar masih terus berusaha menghubungi Baik. Ada gemuruh amarah yang mulai merajai hati dan fikiran Sabar. Tangannya mulai sibuk menulis pesan singkat yang entah sudah keberapa kali. Pesan itu berisi, “Akhi mau antum apa? Skrg sdah jam 8 lbh, kenapa disaat spt ini atum susah dihbungi?”. Tak puas dengan 1 pesan, sabar mencoba menulis pesan lagi dengan tulisan “Akhi, bls sms an atw angakt telf an!!! Antum dmna sekarang?”

Jam terus berputar, belum satupun SMS yang terbalas& berpuluh telephon juga tidak memberikan hasil.
Mas Abdullah : “De maaf sudah jam 08.40 saya harus keluar. Kita pending atau gimana?”
Aaa : “Iya mas maaf banget y, sepertinya sebaiknya kita pending dulu.”

Mas Abdullah : “Oya de, saya baru ingat hari besok selama saya ada urusan di luar kota dan kurang tau kapan bisa balik ke Bandung.”

Aaa : “Bertari selama itu juga kita nggak bisa ketemu untuk membahas TA?”

Mas Habibi : “Iya de, maaf de saya duluan ya? Soalnya sudah ditunggu. Wassalamu’alaikum….”
Aaa : “Oo iya mas silahkan, sekali lagi saya minta maaf mas. Wa’alaikumsalam….”

Kekesalan sabar dilapiaskan dengan mengirim pesan kepada baik dengan nada kecewa, pesan itu tertulis “Syukran akhi antum sdah bwat presentasi hri ini gagal, an sngt kcwa dengan antm. Antum memang tidak pernah bisa diandalkan Mlai sekarang antum bukan saudara an lg.

Tidak lama berselang, HP Sabar berbunyi. Dilihatnya HP itu dan isinya “Nak Sabar, ini ibu. Baik mengalami kecelakaan sekarang kondisinya kritis, ada luka dikepalanya& harus segera dioperasi sekarang juga. Dari tadi dia terus memanggil nama Nak Sabar, kl sedang tidak sibuk ibu minta tolong Nak Sabar datang ke RS Harapan. Terima kasih”

Ada rasa yang tidak biasa menyelimuti hati Sabar, hatinya terasa begitu sakit suhu badannya naik dan tanpa sadar bulir bening itu menerobos keluar dari ujung mata. Dia langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Rasa sakit itu terasa bertambah saat sampai di gerbang RS.

Sabar   :”Kenapa ana begitu jahat, sudah berhusnudzan dengan saudara ana sendiri…
Kalau saja ana lebih bersabar……
Kalau saja ana tetap berhusnudzan……
Dan kalau saja waktu dapat diputar beberapa jam saja, ana akan menghapus SMS-SMS yang tidak pantas dibaca itu…… Ya Rabb lindungilah saudara ana.”
Puluhan, ratusan bahkan ribuan kata penyesalan memenuhi hati Sabar. Dia berlari munuju ruang UGD dengan terus berdoa.

***

Saudara/i ku, kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dengan saudara kita saat dia telat membalas sms, lama mengangkat telephon atau sesekali terlambat datang syura. Tetaplah berhusnudzan, tidak ada yang salah dengan satu kata itu namun yang ada akan terus mendekatkan kita dengan Alloh. Semoga bermanfaat…… ^_^

Penulis : Iffatuz Zahro (Mahasiswi FE UM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s