SETETES EMBUN DARI SURGA

Posted on Updated on

Entah kenapa kisah mentari pagi yang penuh harapan selalu hadir setelah berakhirnya malam yang gelap gulita. Dan remangnya senja selalu memunculkan kisah romantic dan penuh kenangan akan indahnya cerita sepanjang hari itu. Itulah yang membuat hadirnya pagi selalu dinanti – nanti, sedangkan senja selalu dikenang.

Panggil saja aku Izza (bukan nama asli). Saat ini aku adalah mahasiswi disebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur.

Kenapa sekarang aku memilih jalan ini? Rasanya nyaman sekali aku dekat – dekat dengan Allah dan menutup rapat – rapat tubuhku ini dengan pakaian identitas muslimah yang  disebut – sebut sebagai jilbab.

 

***

 “baik – baik sama mas Bowo ya!” seperti itu pesan ibu kepadaku ketika akan berangkat.

Beberapa bulan setelah aku lulus SMP, ibu membantu bapak bekerja diluar kota. Waktu itu aku tinggal serumah bersama mas Bowo (kakak laki – laki) yang baru dua bulan di wisuda dari sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya. Setelah lulus kuliah mas Bowo memang memutuskan kembali dan bekerja di kota tempat kami tinggal.

Mas Bowo bisa dikatakan orang yang cukup taat beribadah. Dia orang yang baik dan sopan. Tak pernah sedikitpun aku mendengarnya berkata kasar atau menyakiti orang lain. Sedangkan aku ini remaja biasa. Bagiku bukan hal nomor satu ketika kita harus beribadah atau mengutamakan ketaatan kita pada agama diatas apapun. Aku sendiri tidak terlalu suka dengan orang yang suka menunjukkan identitas agamanya didepan umum. Seperti halnya jilbab ataupun celana diatas mata kaki. Munafik menurutku apabila pakaiannya itu hanya sekedar identitas dan perilakunya tidak sesuai dengan kebaikan – kebaikan yang seharusnya tercermin padanya. Aku tidak habis fikir kenapa orang – orang munafik yang sering kutemui itu kebanyakan adalah orang – orang alim dan taat beribadah yang seharusnya memberi teladan baik kepada orang lain.

Seperti ketika aku bertemu wanita berjilbab tetapi tidak menjaga sikapnya. Berjilbab tetapi perilaku dan tutur katanya sering menyakiti orang lain, berjilbab tetapi pergaulannya bebas sangat bebas bahkan lebih bebas dari kami yang tidak berjilbab, bahkan pernah aku mendapati jilbaber tapi ternyata dia pencuri, parahnya akulah korban pencurian itu. Dan yang paling kubenci adalah pendakwah yang sering berceramah dimimbar yang memiliki banyak istri dengan alasan melaksanakan sunah Rasul. Wanita mana yang mau lemah dan disakiti seperti itu? Kenapa wanita – wanita yang dipoligami itu hanya diam dan pasrah? Wanita – wanita itu lemah, aku benci. Banyak lagi kemunafikan lain yang membuatku muak bahkan sangat benci dengan orang – orang sok alim dan mengatasnamakan Islam.

Dulu, bagiku berpakaian rapi dan sopan asalkan berperilaku santun itu sudah cukup. Tidak perlu mengumbar identitas sok alim segala.

***

“bagaimana hasil brifingnya tadi di sekolah Za?” Tanya mas Bowo kepadaku, ketika kami duduk melepas lelah diruang tivi.

Beberapa hari lalu aku baru saja diterima di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kotaku. Hari ini adalah brifing untuk penyampaian biaya administrasi dan atribut sekolah.

“seru mas, temen – temennya asyik. Apalagi satu kelas isinya cewek semua, cuma dua orang cowoknya. Jadi banyak temennya hehehe.” Jawabku antusias.

“o iya, ini tadi juga disampaikan mengenai biaya pembangunan dan SPP yang harus diketahui orang tua siswa. Ini juga ada biaya atribut dan seragam sekolah yang harus dilunasi” lanjutku lagi sambil menyerahkan beberapa lembar rincian biaya dan atribut kepada mas Bowo.

Mas Bowo kemudian mengamat – amati beberapa lembar yang kuberikan tersebut.

“nggak terlalu mahal sih kalau dibandingkan sekolah – sekolah lain” ucap mas.

“o iya, Za kamu nanti kalau sudah masuk SMK pakai jilbab ya” pinta mas Bowo kepadaku.

Spontan aku kaget dengan saran mas Bowo itu. “nggak salah?” pikirku dalam hati “kenapa harus dengan aku pake jilbab sih mas permintaanmu itu?” ucapku, tertahan dalam hati.

“nggak salah mas?” jawabku. “aku kan nggak pinter ngaji”

“ya, makannya sekarang sambil belajar ngaji!” rayu mas Bowo lagi

“kalau gitu nanti aja kalau sudah lancar dan bagus ngajinya”

“dicoba dulu, pake jilbab, sambil belajar ngaji”

“enggak ah mas, aku masih malu” jawabku. “Berjilbab juga nggak menjamin orang itu baik kan, Banyak kok teman – temanku berjilbab yang hamil diluar nikah, banyak pencuri – pencuri yang berjilbab. Buat apa pake jilbab kalau kelakuannya jelek, lebih baik biasa saja tapi nggak neko – neko”

Aku bicara nananana tanpa henti seolah – olah aku punya seribu alasan kenapa aku menolak saran mas Bowo itu.

“Baik atau tidak itu tinggal yang pakai” kata mas Bowo tak kenal menyerah membujukku untuk mau mengenakan jilbab. “nanti kalau sudah dipakai pasti akan terbiasa. Tidak boleh tidak, harus pakai ya!”

***

Awal masuk sekolah aku masih merasa tidak nyaman, kenapa pakaian menyebalkan ini harus kupakai. Aku yang masih belum terbiasa memakai kerudung waktu itu masih merasa gerah. Aku hanya memakai jilbab ketika sekolah saja. Sedangkan diluar sekolah aku masih belum terbiasa memakainya. Satu hal yang masih ku takutkan waktu itu, aku takut menjadi bagian dari orang – orang munafik beratribut Islam itu. Aku takut cacian orang – orang tentang buruknya jilbab, dan aku takut menjadi bagian dari wanita – wanita lemah.

Suatu hari mas Bowo mengajakku ke sebuah toko buku. Aku memang sangat menyukai buku. Terutama buku – buku narasi dan komik. Komik doraemon yang penuh hayalan dan crayon shinchan yang sering membuat kram perut karena tertawa.

Ketika akan menuju ke arah rak komik dan buku – buku narasi mas Bowo berhenti dibagian rak buku – buku Islami. Entah kenapa mataku tertuju pada deretan buku – buku yang mengisahkan tentang jilbab dan muslimah. Aku mengambil sebuah buku remaja dengan sampul warna pink dan bergambar kartun muslimah cantik berjudul “Cewek Smart”. Bahasanya sangat ringan dan lucu.

“kamu mau buku itu?” Tanya mas Bowo ketika aku asyik membaca synopsis di sampul bagian belakang buku.

“eh mas, bikin kaget aja. Mau… mau… tapi sama yang itu juga ya” jawabku sambil menunjuk salah satu buku narasi di sebuah rak.

Setelah menyetujuinya mas Bowo segera menuju kasir, membayar beberapa buku yang kami beli. Aku mengikutinya dari belakang. Aku sudah tidak sabar ingin membaca lembar demi lembar buku yang mengisahkan tentang muslimah tersebut. Kenapa wanita muslim harus memakai jilbab, apa hukum jilbab, serta berbagai kisah muslimah yang tetap dapat beraktivitas dan berprestasi seperti biasa meski mereka berjilbab.

***

Sudah hampir genap satu tahun. Disekolah aku masih beraktivitas seperti biasa. Tentunya dengan jilbab yang kukenakan. Karna aku sekolah di sekolah yang mayoritas adalah siswa putri aku tahu betul bagaimana teman – temanku.

Suatu hari salah satu temanku di kegiatan ekstrakurikuler  sekolah tidak mengikuti kegiatan beberapa hari hingga aku mendapat kabar bahwa dia hamil dan harus dikeluarkan dari sekolah. Aku cukup mengenal temanku itu. Dia sangat baik, santun, dan berjilbab.

“nggak nyangka deh, kelihatannya alim, eh, tau – tau hamil” celetuk salah seorang temanku.

Aku diam, dan sebenarnya agak malu dengan diriku sendiri yang juga memakai jilbab.

Sepekan setelah itu temanku SMP yang juga satu SMK denganku mengalami hal yang sama hingga dia harus dikeluarkan dari sekolah kami.

Beberapa minggu kemudian kakak tingkat kami yang akan mengikuti UAN mengalami hal yang sama. Terus, hingga beberapa orang. Sampai – sampai waktu itu hampir  setiap guru yang masuk ke kelas di sela – sela mengajarnya selalu memberikan wejangan – wejangan kepada kami.

“kalian adalah harapan kedua orang tua kalian, jaga diri kalian baik  – baik. Jangan sampai peristiwa yang sering terjadi pada teman – teman kalian akhir – akhir ini terulang pada kalian” tegas guru kami dengan suara agak lantang. “Hal sangat berharga yang kalian miliki dan tidak akan kembali lagi meski kalian menyesal seperti apapun. Pasti akan membawa dampak hingga kalian tua nanti”.

Mungkin karena mayoritas dari kami adalah siswa putri sehingga hal seperti ini sangat ditekankan. Menjadi wejangan rutin untuk kami akhir – akhir ini, agar kami selalu mewanti – wanti apa yang disampaikan oleh guru – guru kami itu.

Saat itu muncul berbagai pertanyaan dikepalaku. Apakah ada yang salah dengan wanita? Apakah jilbabnya yang salah? Kenapa agamaku harus mewajibkanku berjilbab jika jilbab hanya menjadi alasan bagi orang lain untuk mencaci muslimah? Jilbab tidak mampu melindungi, atau kami yang tidak mampu melindungi jilbab sehingga menjadi alasan untuk dicaci?

***

Aku masih kagum dengan keteguhan mas Bowo yang selalu menjaga amalannya. Malam hari ketika aku sudah malas belajar karna kecapekan sekolah dan keluyuran, mas masih tetap bersemangat mengikuti kajian sepulang lembur kerja kira – kira jam delapan malam. Pagi harinya  sebelum berangkat kerja dia harus menyiapkan sarapan untukku.

Wajahnya seperti mentari pagi yang hangat dan penuh semangat, selalu berseri – seri menyambutku dipagi hari. Aku masuk sekolah jam tujuh pagi. Sedangkan mas Bowo masuk kerja jam delapan.

Seperti biasa aku terlambat berangkat kesekolah. Sudah jam tujuh, padahal jarak antara rumah dan sekolahku membutuhkan waktu kira – kira limabelas menit dengan sepeda motor.

“hayo… telat … terus.. terus… telat… nggak kapok ya, telat… terus.. ” ejek mas Bowo kepadaku. Mas selalu menggodaku karena aku bangun kesiangan, dan terlambat berangkat sekolah.

“wah… nggak butuh uang jajan ni kamu? Sudah berangkat sana… sudah siang” teriaknya ketika aku sudah berlari – lari kecil mengeluarkan motor maticku.

“Butuh……………… hehehe aku berangkat dulu ya mas” teriakku sambil berlari kearah mas Bowo, mengambil beberapa ribu uang yang dipegangnya, dan mencium tangannya. Kemudian aku berlari lagi kearah motor dan “brem.. brem..brem..” tancap gas kesekolah.

***

Beberapa hari ini aku suka membawa buku – buku narasiku, juga buku tentang jilbab kesekolah. Hanya sekedar untuk mengisi waktu luang ketika istirahat saja. Hari berikutnya ada salah satu temanku yang aktif di rohis sekolah membawa buku dengan bahasan yang sama tentang jilbab namun dengan gaya penyampaian dan pengarang yang berbeda.

“wah, aku belum pernah baca yang ini” kataku pada temanku itu.

“iya, barter ya. Aku pinjam bukumu nanti kamu pinjam bukuku” jawabnya

“sip… kamu punya buku lain? novel atau komik – komik?” tanyaku.

“Ada..” jaawabnya lagi

Mulai saat itu kami menjadi sering bertukar buku. Sepertiya teman – teman sekelasku juga sangat tertarik dengan buku – buku kami itu. Mereka – bergiliran meminjam hingga buku – buku tentang jilbab itu menyebar ke seluruh isi kelas kami. Minggu berikutnya salah seorang teman satu kelas kami berjilbab. Beberapa bulan kemudian ada seorang lagi. Hingga buku itu menyebar kekelas, dari tangan ketangan. Tepat ketika akan masuk kelas tiga SMK separuh dari teman sekelas kami yang mayoritas adalah perempuan memakai jilbab.

Waktu itu salah seorang temanku yang aktif dirohis sekolah itu mengajakku untuk bergabung di rohis sekolah kami.

“yuk biar pengetahuan kita tentang Islam bertambah Za, biar kita bisa ngaji bareng” celotehnya kepadaku.

Aku masih enggan untuk mengiyakan ajakannya. Aku memang suka membaca  buku apapun, tapi untuk rohis dan ikut terlibat aktif didalamnya aku masih belum tertarik. Apalagi aku masih belum sreg dengan beberapa personil rohis disekolah.

Dirumah juga aku sering dipuji oleh ibu teman – temanku. Karena jilbab yang kupakai. Katanya, “wanita itu kelihatan lebih cantik dan sopan kalau pakai jilbab”, atau sebagainya. Mungkin karena hingga saat ini aku masih baik – baik saja dengan jilbab yang kupakai. Tanpa sadar aku sangat senang dengan pujian – pujian itu. Ibuku yang terkadang hanya sebentar pulang kerumah sebelum kembali lagi  bekerja diluar kota –pun sangat senang melihatku memakai jilbab. Meskipun sebenarnya ibu juga tidak begitu perduli apakah aku harus berjilbab atau tidak. Yang jelas, katanya aku kelihatan lebih sopan ketika memakai jilbab, titik. Selebihnya untuk urusan agama mewajibkan seorang wanita harus memakai jilbab atau tidak itu bukan ukuran baginya.

Waktu itu jilbab seperti menjadi trend mode. dengan kemunculan Zaskia Adya Mecca si pemeran beberapa film dan sinetron realigi. Begitu juga denganku dan beberapa temanku yang memutuskan untuk memakai jilbab. Kami mengenakan jilbab namun tetap dapat beraktivitas seperti biasa.

Seperti remaja lain yang masih ingin bersenang – senang. Kegiatanku diluar rumah bersama teman – temanku menjadi semakin tidak terkontrol.

Aku sudah bukan remaja yang patuh dan rajin lagi. Aku menjadi semakin malas belajar bahkan lebih nakal dari sebelumnya. Mungkin  karena orang tua kami percaya kami bersikap baik dengan niatan kami memakai jilbab. Termasuk bermain – main hingga larut malam dengan masih menggunakan seragam, bolos kursus bahasa inggris karena jalan – jalan, dan beberapa kenakalan lainnya. Hingga aku tidak sadar jika saat itu aku adalah orang munafik yang dulu ku benci. Orang munafik yang membangga – banggakan jilbab tapi tidak mampu menjaga sikap dan tindakanku sendiri. Aku menyalah gunakan kepercayaan orang tua dan orang – orang disekitarku.

Suatu hari aku pulang malam, kira – kira setengah delapan malam dengan masih menggunakan seragam sekolah. Hujan cukup deras. Kufikir mas Bowo masih lembur kerja seperti biasa hingga aku bebas keluyuran dan pulang malam. Tapi ternyata aku salah. Mas sudah pulang dan dia sangat marah karena kelakuanku. Belum pernah aku dimarahi seperti ini oleh siapapun, bahkan mas yang tidak parnah marah sekalipun. Aku memang salah karena menjelang UAN seharusnya aku belajar dan berperilaku baik, bukan bermain – main hingga larut malam.

“kamu itu perempuan, tidak pantas berperilaku seperti ini.” Ucap mas Bowo, marah.

“besok sore kamu ikut bimbel, kamu itu mau UAN, kamu mau ujian masuk perguruan tinggi. Malamnya ikut mas ngaji” Tegas mas kepadaku.

“TIDAK, aku tidak mau” jawabku sambil membanting pintu kamar.

“mau jadi apa kamu? bapak sama ibu itu kerja keras untuk kamu, kamu main – main seperti ini? Mau jadi apa kamu?” timpal mas dengan nada tinggi.

***

“mas aku nggak mau ikut bimbel, ikut bimbel itu mahal. Sayang kan uangnya ?” kataku

“kalo kamu pinter, nggak papa nggak ikut bimbel. Belajar sendiri saja. Lha memangnya kamu pinter? Kamu kan males, nggak pernah mau belajar..” jawab mas sambil menuangkan air kedalam gelasnya ketika makan malam. Aku mengambil sepiring nasi kemudian duduk dikursi sebelahnya. Sepertinya mas Bowo sudah tidak marah lagi. Aku yakin kemarin malam mas hanya tidak dapat mengontrol emosi, karena aku memang sudah sangat keterlaluan.

“lulus – lulus” kataku

“iya lulus, tapi kan nilainya pas – pasan” jawab mas Bowo

“yang penting kan lulus”

“SPMB nya bagaimana? Kamu bisa pelajaran SMA?”

“itu kan untung – untungan, tinggal baca bismillah sambil ngitung kancing baju saja kalo mau ngisi lembar jawab”

“ngawur… ” katanya. “perempuan kok makannya banyak” ucapnya lagi ketika melihat sepiring nasi dipiringku.

Aku diam sinis melihatnya “aku yang makan kok, mas yang repot” jawabku

“hemmmm dasar cewek.. cewek.. cewek kok makannya banyak, gendut, jelek, pelit, ngeyelan, udah gitu mualesnya minta ampun..” ledeknya kepadaku.

Aku cuma memicingkan mata sambil mencubiti tangannya.

“nanti ikut ngaji ya” ajak mas Bowo.

“E.M.O.H” jawabku, (dalam bahasa Indonesia berarti “tidak mau”) sambil mengangkat sepiring nasiku dan pindah ke ruang tivi.

Entah kenapa rajinku sekarang tidak serajin ketika SMP dulu. Kenapa santun dan manisnya sikapku sekarang tidak semanis ketika SMP dulu? Ketika masih tinggal dengan Ibu, ketika aku belum memakai jilbab, ketika aku masih menjadi remaja biasa yang rajin, yang sangat benci dengan jilbaber munafik, justru sekarang aku sendiri jilbaber munafik itu. Lalu apa yang salah? Apa karena waktu yang luas seluas – luasnya tanpa orang tua? Tanpa ibu? (aku sangat rindu ibuku). Atau karena jilbabku? Atau aku termakan oleh kebencianku dulu pada jilbab? Entahlah aku malu pada diriku sendiri. Terlambat memperbaikinya, aku sudah terlanjur malu dengan kemunafikanku ini.

Beberapa bulan setelah kelulusan beberapa temanku sudah diterima di perguruan tinggi faforit. Bahkan beberapa teman SMP-ku sudah diterima di perguruan tinggi terkemuka dinegeri ini melalui jalur – jalur prestasi. Tinggal aku saja yang belum.

Aku memutuskan untuk ikut bimbel SPMB. Mas Bowo dengan senang hati memberikan dukungan. Meskipun sebenarnya aku malu padanya. Agak terlambat, jika saja aku nurut dari awal, jika saja persiapannya agak lama, jika saja jika, jika, jika.

Beberapa minggu saja, hingga tiba ujian SNMPTN serentak diseluruh Indonesia. Aku mengambil prodi kedua yang grade nya terpaut cukup jauh dari grade pertama. Hingga pengumuman masuk aku diterima di prodi kedua itu, di Malang. Lokasinya cukup jauh. beberapa jam naik bus dari kota tempatku tinggal.

“mas, nggak mungkin.. aku nanti sengsara disana, jarang pulang, kalo aku kurus gimana? nanti rumahnya ditempati siapa? prodinya juga nggak begitu bagus, nanti kalo lulus mau jadi apa aku? “ eyelku kepada mas Bowo.

“loh kan, ngeyel lagi? Urusan jadi apa itu dipikir nanti kalo sudah lulus. Sekarang tugasmu belajar yang rajin, cari ilmu, ikuti apa saja kegiatan positif dilingkungan kampus, nggak usah ngeyel lagi, nggak usah mikir eman – eman duitmu” jawab mas Bowo.

“mas……..” rengekku.

“wes, wes.. besok kita berangkat daftar ulang. Ya” bujuknya.

“mas……….” rengekku lagi.

“ TURU… besok bangun pagi” jawabnya

***

Hampir sepertiga hari naik bis, capek sekali, aku sepertinya tidak betah disini. Tidak bisa sering – sering pulang, tidak ada motor.

“na….. ini namamu…” kata mas Bowo sambil menunjuk namaku di tabel daftar mahasiswa baru di papan pengumuman depan gedung rektorat universitas.

“ID peserta SPMB yang diterima dari Jawa Timur semua ya, kamu beda sendiri. Hahaha..  salah siapa nggak mau belajar yang rajin dari awal” oceh mas dengan nada meledek.

Aku menoleh dengan wajah sinis kepadanya. Kami berjalan menuju ruang registrasi. Setelah selesai registrasi kami kembali ke kota kami.

Beberapa minggu kemudian, mas mengantarku kembali ke kota perantauanku menuntut ilmu. Kali ini setelah meletakkan barang – barangku dikamar kos kami berkeliling kota malang mencari kebutuhanku selama aku akan tinggal di Malang. Setelah semua keperluan lengkap mas Bowo pulang, sedangkan aku harus tetap tinggal di Malang karena beberapa hari lagi ospek dilanjutkan kuliah pertamaku. Aku menangis… wa… cengeng sekali, sekarang aku dikos mau memaki – maki siapa? Mau jalan – jalan sama siapa? Seolah – olah aku sangat rindu dengan mas Bowo dan teman – temanku di rumah. Ini seperti sebuah hukuman untuk segala kenakalanku selama SMK.

Malam hari aku hanya diam dikamar kos. Aku seperti terasingkan. Aku masih belum tahu lingkungan yang kutinggali sekarang, tanpa teman, tanpa saudara. Aku berjanji pada diriku sendiri ingin memperbaiki semuanya.

***

Tiga minggu tinggal di Malang, aku sudah punya beberapa teman. Tidak banyak, aku juga kenal teman – teman kos. Orangnya ramah – ramah. Hingga akhirnya tiba waktu libur lebaran. Tiga minggu, lumayan. Satu minggu sebelum lebaran dan dua minggu setelah lebaran.

Aku turun dari bus, mas Bowo sudah menunggu di halte. Aku rindu sekali pada masku ini. Selama perjalanan menuju rumah aku bercerita ini itu kepadanya. Dia juga menanggapi dengan antusias. Hingga tidak terasa kami sampai dirumah.

Ini adalah lebaran yang sangat kurindukan. Ketika lebaran tidak semua keluarga kami utuh, dan hari ini ada bapak, ibu, mas, dan aku. Semuanya lengkap

Aku merasakan sikap mas agak berbeda. Dulu sebelum aku kuliah dia memang sering menasehatiku, tapi kali ini lebih sering.

“pokoknya, ikuti saja kegiatan kegiatan positif dikampus. Belajar yang rajin biar dapat nilai bagus, tapi jangan terlalu kebanyakan belajar juga sih, nanti kamu cupu hehehe, Pokoknya kalau waktunya main ya main, tapi kalau bisa mainnya yang bermanfaat, waktunya belajar ya belajar, waktunya ngaji ya ngaji” Nasihatnya panjang lebar. Dan aku hanya menjawabnya dengan satu kata “ya…………..” saja.

Lalu mas berjalan menuju kamarnya. Aku hanya mengikutinya dari belakang.

“ini kamu bawa saja bukunya.”, kata mas Bowo.

“ini juga”, katanya lagi sambil mengeluarkan beberapa buku dari rak di kamarnya.

“kok banyak banget mas? Bukannya ini masih mas pake kan?” tanyaku

“loh, nggak papa biar pinter kamu” katanya. “Kamu bawa printer nggak? Ini nanati kamu bawa ya!” kata mas lagi.

“nggak ah, berat. Mas pakai saja. Disana ngeprin murah kok” jawabku

“o…. ya sudah.. “ timpal mas lagi.

“loh, kamu belum bisa pake jilbab to? Belajar…. ! Dari SMK kok jilbabnya tetep itu. Belajar pake jilbab yang baik, yang rapi” katanya lagi. Aku hanya menjawab “ iya, mas…….”

Setelah itu mas mengajakku ke rumah teman – temannya. Baru kali ini aku diajak kerumah teman – temannya. Dia juga memintaku menghafal jalannya. Aku merasa sangat senang. Baiknya menjadi berkali – kali lipat. Ah, mungkin karena sekarang aku sudah dianggap bukan anak labil lagi, meskipun sebenarnya masih ababil banget hehehe. Atau karena sudah lama tidak ketemu. Mungkin dia rindu padaku hehehe.

***

Tiga minggu terasa cepat sekali. Sekarang aku harus kembali lagi ke Malang. Kali ini aku tidak berangkat dengan mas Bowo. Mas meminta agar bapak yang mengantarku kesana mumpung bapak dirumah. Biar Bapak tahu kosku disana katanya. Mas hanya mengantar aku dan bapak sampai halte bus.

Setelah sampai di Malang, aku dan bapak istirahat sebentar. Setelah itu bapak kembali lagi ke Pati. Sekarang aku sendirian bersama teman – teman baruku disini. Aku masih sangat merindukan keluargaku, terutama mas Bowo.

***

Jumat malam 25 September 20XX satu minggu setelah libur lebaran di rumah, ketika itu aku sedang mengikuti bakti sosial kampus di Batu, Malang. Ibu menelfonku dengan suara terbata – bata kemudian menutup lagi telfonnya. Aku merasa cemas dan sedikit bingung. Biasanya ibu menelfonku lama sekali, tapi ini hanya sebentar, hanya menanyakan apakah aku disini baik – baik saja?, setelah itu tidak ada kalimat lain.

Pagi harinya teman mas Bowo menelfonku. Katanya dia akan menjemputku di kos karna mas Bowo kecelakaan dan sekarang masih di rumahsakit. Aku bergegas pulang ke kos dengan naik kendaraan umum dari Batu menuju Malang kota. Di dalam kendaraan umum HP -ku beberapa kali bordering. Kulihat, ada beberapa sms masuk dari teman – temanku di rumah mengirimkan ucapan turut berduka cita atas meninggalnya mas Bowo. Aku semakin bingung hingga aku berteriak dan menangis menjadi – jadi. Sampai di kos aku masuk ruangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“loh Za kok sudah pulang, kan baksosnya selesai besok?” Tanya mbak kosku heran.

Aku berusaha menahan tangis, tapi air mata ini tanpa sadar meleleh.

“kenapa kamu?” Tanyanya lagi sambil berjalan kearahku.

Kuceritakan semuanya dengan tersedu – sedu.

“sabar ya” kata mbak kos sambil memelukku erat.

Di bantu mbak kos aku kemudian mengemasi beberapa barang yang akan kubawa pulang. Ketika teman mas datang aku pulang bersamanya. Aku menangis tanpa henti. berjam – jam perjalanan dari batu ke malang kota, hingga malang menuju pati aku tak henti – hentinya menangis. Seolah – olah tak percaya sebelum aku sampai dirumah dan melihatnya sendiri.

***

Sampai dirumah bapak dan ibu langsung memelukku dan tak henti – hentinya menangis. Aku masih tidak percaya. Aku marah pada diriku sendiri. Lalu siapa yang akan mengingatkanku , membimbingku, kenapa Allah cepat sekali memanggilnya? Padahal aku baru saja ingin memperbaiki semuanya.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti. Aku harus berubah mulai detik itu, dan mengikhlaskan semuanya. Tidak boleh tidak, belajar menjadi orang yang lebih baik dan tetap berprestasi adalah keharusan sedangkan jilbab adalah kewajiban. Aku mulai mengerti, pesan – pesan yang disampaikan mas Bowo dihari – hari terakhir bertemu. Aku harus tetap belajar, aku harus tetap kuliah, aku harus menjaga Islam sebagai identitas dan tujuanku, aku harus belajar memahami Islam meskipun itu sulit, dan aku harus tetap menjaga tali silaturahmi dengan saudara dan teman – teman mas meskipun dia sudah terlebih dahulu pergi menghadapNYA.

Aku mulai mencari – cari siapa yang bisa membimbingku, aku ingin sungguh – sungguh belajar. Majelis taklim, buku-buku bacaan, hingga aku mulai mendekati teman – teman yang taat dan rajin beribadah dikampus. Aku mulai berusaha memperbaiki sikap meskipun sangat sulit, dan perlahan lahan. Meskipun terkadang masih terbawa sikap kekanak – kanakan, no profile, tidak perduli dengan orang lain, dan terkadang masih egois. Aku sudah tidak perduli apakah aku sekarang adalah orang munafik atau tidak. Aku sadar bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna. Manusia diciptakan dengan nafsu dan kekhilafan agar dia menyadari bahwa dirinya adalah mahluk yang lemah dan terus berusaha memperbaiki diri. Hidup memang tidak lama bahkan aku sendiri tidak tahu entah nanti atau besok aku dipanggil, jadi untuk apa aku hidup dalam kesia – siaan jika hidup dijalan Allah jauh lebih menentramkan?

***

Setelah meninggalnya mas Bowo aku juga mulai melihat perubahan sikap kedua orang tuaku yang rajin beribadah. Bahkan sekarang beliau berdua yang selalu mengingatkanku untuk tilawah setelah salat magrib ketika dirumah.

Yang jelas aku harus tetap mempelajari Islam dan menjadikannya sebagai tujuan hidup dan matiku, termasuk menjaga jilbab sebagai identitas yang menjagaku. Seperti embun yang menetes perlahan. Bening dan sejuknya selalu ramah mengiringi mentari pagi yang hangat dan penuh harapan. Begitu pula mas Bowo yang nasihat dan hadirnya meski sebentar memberi arti mendalam untuk orang – orang disekitarnya termasuk juga aku dan jilbabku.

Sekarang Allah mempertemukanku dengan saudara – saudara baruku. Dengan jilbab yang dulu sangat kubenci sekarang aku sudah tidak perduli lagi dengan alasan kebencian itu. Yang jelas jilbab dan akhlak adalah dua hal yang harus berjalan beriringan dan tidak terpisahkan. Dan jika kita mau mencari Insya Allah pertolongan dan kasih saying Allah akan selalu datang mengiringi bahkan jauh lebih besar dari apa yang kita minta.

Sebuah kalimat Yasmin Mogahed yang mengispirasiku hingga saat ini adalah “Enter upon the parth of Allah and you’ll meet the most amazing people along the way..!” seperti perjalanan dan orang – orang yang kutemui ketika aku berusaha mendekat padaNYA.

Hal kecil yang tidak berarti apapun ini semoga dapat memberikan arti bagi orang lain. Aku berhadap dapat terus berkembang menjadi jauh lebih baik suatu saat nanti.

Jika mas Bowo dapat mendengarnya dari surga aku ingin sekali menyampaikan: “jilbab ini sudah bukan paksaan lagi mas, ini sudah menjadi keikhlasan dan aku sudah dengan senang hati merasa dilindungi olehNYA, dengan apa yang kukenakan ini. Jilbab ini sudah menjadi bagian dari hidupku. Semoga ini menjadi amalanmu yang tiada putus – putusnya disurga sana (aamiin)”.

Ya Allah, hamba tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Engkaulah yang Maha kuasa sedangkan hamba tidak. Engkaulah yang Maha pemilik masa lalu dan masa depan sedangkan hamba tidak. Kecuali atas kuasa dan izinMu,  hamba mohon sertailah selalu hambamu yang lemah ini. Tuntunlah dan pangillah dalam sebaik – baiknya imanku kepadaMu.

***

 

Note. Bagi teman – teman yang membaca cerpen ini, saya mohon doa untuk mas Bowo agar diampuni segala dosanya, diterima segala amal baiknya, dan mendapat tempat yang indah disisi Allah SWT bersama orang – orang yang dikasihiNYA (Aamiin).

 Agak lebai ya cerpennya hehehe makannya nggak lolos. Hanya ingin memenuhi janji kepada admin sja untuk mau ngepost cerpen ini.

Terimakasih sudah menyempatkan membaca,

Mohon maaf atas atas segala khilaf..

Penulis : Izza (Mahasiswi FE UM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s