Celoteh: Sekilas tentang Bahasa SMS

Posted on Updated on

Entah kenapa saya benci, ah tidak tidak bukan benci tapi mungkin kurang suka saja dengan balasan sms seperti ini “Y” atau “G” padahal nanyanya panjang lebar kali tinggi, atau semisal ditanya lagi dimana? Dan jawabnya cuma “kampus” paling nggak dijawab gini kan bisa: “lagi di kampus, ada apa?”

Ribet mungkin bagi sebagian orang yang suka hidup penuh kesimpelan, tapi ada kalanya bahasa itu bisa bicara, bahkan bahasa SMS. Kalo kita berasumsi mungkin yang kita SMS sedang sibuk atau mungkin nggak punya waktu cukup untuk ngetik yang panjang-panjang maybe masih bisa diterima, tapi coba kita berpikir ulang, kalo semisal kita SMS orang lain seperti ini: “kamu bisa datang acara nanti sore?”, terus balasannya cuma gini: “nggak bisa”, nah kita pasti pengen tahu alasannya dan nanya: “kenapa?”, terus balasannya: “ada training kegiatan organisasi”, karena acara sorenya juga penting kita akan terus nanya: “tak adakah yang bisa menggantikan kamu sebentar saja?” dan next balasannya: “nggak ada”.

Ooh betapa menyebalkannya. Pertama, kalo dari awal orang yang kita SMS langsung membalas seperti ini: “maaf nggak bisa, hari ini saya ada acara training organisasi dan tidak ada yang bisa menggantikan saya disana.” Saya rasa balasan seperti itu lebih efektif, lebih santun, panjang mungkin, dan ngetiknya lebih banyak, tapi sebenarnya lebih jelas tanpa perlu diberondong pertanyaan lanjutan, lebih hemat pulsa juga karena cukup satu kali sms sudah bisa menjelaskan keadaan, terus hemat kotak masuk sms juga plus yang terpenting nggak bikin sebel yang sms. Atau contoh lainnya lagi, semisal kita tanya: “kamu masih di kontrakan?” dan jawabnya cuma gini: “nggak” akhirnya kepaksa deh kita sms lagi: “terus lagi dimana?” jawabnya: “kampus”

Aaarrrgghhhh betapa menyebalkannya menurut saya (pribadi) karena saya nggak mau ngajak-ngajak orang lain dalam tulisan ini, entar dituntut kan berabe,he.3x

Bahasa SMS sebenarnya tak jauh beda dari bahasa ketika kita bicara dengan orang lain. Saya kurang tahu kalo kaum adam, karena kita berasal dari planet yang berbeda (bukunya men from mars and women from venus, meski jelas hidupnya ya di bumi semua,hehe) tapi alangkah lebih baiknya kalo kita belajar untuk saling memahami karena dunia ini tidak diisi oleh kaum adam saja atau kaum hawa saja, tapi dunia ini diisi oleh kaum adam dan hawa, tentu saja bukan untuk saling memusuhi tapi untuk saling melengkapi. Karena jelas tak ada yang manusia yang sempurna. Lah terus gimana donk dengan nasib kaum b*nci?! Hmmm sayang sekali saya tidak akan membahasnya disini tapi saya sarankan kaum b*nci untuk segera bertobat.🙂

Untuk kaum adam yang (mungkin) sedang belajar memahami okelah saya maklumi. Tapi untuk kaum hawa sejujurnya saya sedikit kecewa. Karena kita sama-sama kaum hawa jadi bukankah lebih mudah untuk saling memahami?!🙂

Di awal tulisan ini sudah saya katakan bahwa bahasa sms itu nggak jauh beda dengan bahasa ketika kita berbicara dengan orang lain. Khusus untuk kaum hawa, biasanya bahasa yang digunakan adalah bahasa yang nggak langsung. Contoh riilnya gini: Andita dan Rita adalah teman satu kosan. Suatu ketika, Andita kebingungan mencari bendanya yang raib. Karena meski sudah berwajah kebingungan dan mengobrak-abrik barang di kamarnya Rita tetap tak bereaksi, akhirnya dia mengeluarkan suaranya: “Aduhh dimana ya?”, si Rita yang mendengar suara Andita kemudian menjawab: “kamu nyari apa?” Andita: “pensil, kamu tau nggak dimana?”, Rita: “lah sebelumnya kamu taruh mana?”, Andita: “di meja”, Rita: “Ya udah cari aja di meja”, Andita: “udah, tapi kok nggak ada ya.. padahal pensil itu pemberian Papa”, Rita: “coba cari di tempat lain deh, kamu kan emang pelupa” Andita: *banting-banting barang dengan muka merah hampir nangis. Rita: *bengong tapi tetap asyik baca komik.

Nahhh dari cerita di atas sebenarnya bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya Andita ini ingin minta bantuan Rita untuk nyari pensilnya yang hilang, cuma karena emang para kaum hawa ini pake bahasa yang nggak langsung, jadi yang keluar ya berupa “kalimat pancingan” seperti cerita di atas. Bahasa sms pun saya rasa nggak jauh beda. Ketika ada yang nanya: “lagi dimana?” itu bisa berarti bahwa sebenarnya orang yang sms kita lagi membutuhkan kita. Sayangnya tak banyak yang menyadari hal ini dan hanya menjawab sesingkat-singkatnya. Baru kalo ditanya lagi ya dijawab lagi atau bahkan nggak dibalas-ini yang parah. Lah kan kita tetap harus berhusnudzon, mungkin yang di sms super duper sibuk jadi cuma bisa balas sms super singkat gitu atau bahkan nggak balas (cari 77 alasan katanya pak Salim). Yap emang benar husnudzon itu tetap harus diutamakan, tapi ingat kita juga jangan membuat orang lain berpeluang untuk bersu’udzon pada kita, karena itu artinya sama saja kita juga dosa. Loohh kok malah ngomongin dosa??? Ya nggak apa-apa donk, untuk sekedar berbagi pengetahuan dan saling mengingatkan saja. Nah selanjutnya kita juga tahu bahwa kaum hawa itu sangat sensitif, makanya perlu berhati-hati.

Problem lain lagi selain bahasa yang kelewat singkat adalah tentang tanda baca. Sering kita mendapati dalam bahasa sms ada tanda koma, titik, tanda tanya, tanda seru, dan tanda-tanda yang lainnya. Yah sebenarnya untuk penggunaannya sudah diajarkan sedari kita sekolah dasar. Tapi sayangnya dalam penggunaannya di sms terkadang saya masih mendapati beberapa kesalahan, ada yang maksud smsnya bertanya tapi malah menggunakan tanda seru, jadinya malah seperti kalimat perintah, atau ada juga yang tak ada tanda bacanya sama sekali sampai akhir kalimat sms (padahal smsnya berlayar-layar). Hmm tentu saya percaya bahwa bahasa sms itu lain dengan bahasa Indonesia yang kita pelajari, tak harus benar frasa-nya, baku atau nggak kata yang digunakan atau mungkin susunannya harus menggunakan S-P-O-K. Tidak, saya tidak menyarankan sesaklek itu. Tapi nggak ada salahnya juga donk kita belajar menggunakan tanda baca yang baik dan benar, ini juga supaya memudahkan yang baca sms, jadi nggak salah tangkap makna yang kita sms-kan. Terkadang ada yang bingung maksud dari sms yang diterima gara-gara tanda baca yang aneh (tanda koma dan titik bukan pada tempatnya), ada juga yang sebel gara-gara di sms-nya banyak banget tanda pentung, jadinya seperti disuruh-suruh, diperintah-perintah, padahal maksudnya nggak gitu juga sihh. Ini nyata loh sodara-sodara, banyak terjadi di sekitar saya dan bahkan saya sendiri pun pernah merasakannya. Sampai sedikit ilfeel baca sms yang tanda bacanya penuh dengan tanda pentung atau tanda seru. Jadi, nggak ada salahnya kita sekarang mulai belajar untuk menggunakan tanda baca yang benar. Saya mengatakan ini bukan berarti saya sudah benar dalam menggunakan tanda baca, mungkin saya juga masih banyak kekeliruan dari semua yang membaca tulisan ini. Nah makanya yuk kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan kawan.

Yah yah ini tadi sekedar celotehan saya tentang bahasa dan tanda baca dalam sms, bukan karena saya pinter bahasa Indonesia, tidak karena jurusan saya pun sebenarnya akuntansi (belajarnya kebanyakan angka-angka nominal, jarang mempelajari kalimat yang benar apalagi penggunaan tanda baca). Tapi sudah cukup lama saya memperhatikan fenomena ini, dan akhirnya terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin berbagi saja karena ini lazim terjadi di sekitar kita. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat untuk siapapun yang membacanya.

NB: tulisan ini tidak bermaksud menyindir siapapun, jadi kalo ada yang tersindir penulis mohon maaf yapp (^__^)v

Rabu, 29 Mei 2013 @Syahidah Camp

Penulis : Abidah Nurjayati (Mahasiswi FE UM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s