Ketika Cinta Tumbuh di Taman Dakwah

Posted on Updated on

Picture1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cinta adalah satu kata yang tidak pernah terdefinisikan secara sempurna. Kata yang selalu hidup dalam setiap jaman. Kita mungkin sudah terbiasa mendengar teman-teman ammah jatuh cinta atau saling mencintai,  pertanyaannya bagaimana kalau cinta bersemi dalam hati para aktifis dakwah? Bagaimana ketika ikhwan/ akhwat jatuh cinta? Ya itu wajar, karena sudah jadi fitrah manusia untuk mencintai dan dicintai.

Selayaknya manusia biasa para ikhwan dan akhwat tentunya pernah merasakan jatuh cinta. Rasa deg-degan bercampur grogi muncul ketika berhadapan dengan dia yang kita kagumi. Banyak sekali ikhwah yang memendam cinta kepada sesama para aktivis dakwah. Cinta yang bersemi dalam naungan kasih sayang Sang Pencipta.

Kita tidak bisa mengelak lagi, dalam sebuah organisasi (Lembaga Dakwah) pasti membutuhkan koordinasi untuk menjalankan berbagai kegiatan. Tanpa kita sadari mungkin benih itu tumbuh subur seiring semakin lama kita saling mengenal, seiring semakin sering kita bertemu dalam suatu kajian, seiring dengan pertengkaran-pertengakaran kecil dalam sebuah syura dan seterusnya. Oleh karena itu kita harus menutup dan mengunci pintu hati dengan sebaik mungkin. Simpan kunci itu ditempat yang aman, yaitu dalam genggaman Alloh. Biarkan kunci itu tersimpan dengan mapan, sampai datang pemilik kunci yang sebenarnya diwaktu yang tepat.

Dalam kenyataannya, beberapa kasus cinta di dunia dakwah yang penulis temui sebagian besar korbannya adalah para akhwat. Lukanyapun berfariasi dari yang mulai luka ringan sampai hancur berkeping-keping, tergantung dari seberapa kuat cinta itu terhunuskan. Pernah penulis temui ada seorang akhwat sakit (fisik) berhari-hari. Waktu penulis tanya sakit apa, beliau hanya mengatakan kecapaian. Sampai satu pekan berlalu beliaupun masih terlihat belum sehat. Suatu hari beliau cerita penyebab utama sakitnya, ada seorang ikhwan yang mengajak beliau menikah (tanpa melalui pihak ke tiga dan hanya lewat SMS). Dalam kondisi tersebut sang akhwat merasa hancur, beliau merasa gagal menjaga hijab, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah.

Nah kan, kita liat efeknya begitu luar biasa. Cinta memang sebuah anugerah dan fitrah manusia, namun cinta juga teriring resiko. Butuh manajemen untuk mengelola dan menyampaikannya. Supaya efek yang timbul positif, tidak ada hati yang terluka serta tidak ada fitnah yang menyebar. Bukan hanya tersampaikan lewat SMS bahkan sebatas status di FB, seperti main-main saja.

So bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tidak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (para akhwat). Antum tahu, bahwa kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antum, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?.

Tolong hargai kami sebagai SAUDARA antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Saat antum memang belum siap, maka simpanlah rasa itu jauh di dasar hati antum. Seperti Sunnah Rasul yang akan menjadi penutup artikel penulis dengan beberapa bait puisi.

Diriwayatkan oleh Al Hakim, Khatib, Ibnu Asakir, dan Ad-Dailami

“Barang siapa jatuh cinta, kemudian dia menjaga kesucian dirinya dan menyembunyikan  rasa cintanya, lalu mati, maka dia mati sebagai syahid”

Karena Aku Mencintaimu
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu

Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….

Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.

*** Puisi dan beberapa kalimat dalam artikel ana kutip dari blog sebelah

Penulis : Iffatuz Zahro (Mahasiswi FE UM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s