Cinta Buta vs Cinta Sejati

Posted on

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS.Ali Imran:14)

Sejak dulu beginilah cinta,deritanya tiada pernah ada akhirnya. Ini adalah salah satu ungkapan yang sering diucapkan oleh chu pat kai dalam film kera sakti yang ia menyukai adik chang e namun cintanya tidak pernah terbalaskan.

Banyak sekali cerita-cerita yang diakibatkan oleh cinta diantaranya adalah yang paling populer adalah kisah Romeo dan Juliet ala Wiliams Shakespeare. Pernah juga cinta antara Rama dan Shinta dalam dunia wayang. Cinta antara Laila dan Majnun, cinta antara Samson dan Delilah, cinta antara Jack dan Rose dalam film Titanic. Serta banyak lagi cerita-cerita yang ada dalam film-film layar lebar.

Cinta menjadi laris dijajakan oleh banyak pihak. Para manager bisnis perfilman, para Event Organizer, para penerbit, produser dan kalangan pebisnis lainnya, seringkali memanfaatkan tema “cinta” untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Apakah semua yang ada di film itu termasuk yang memperjuangkan cinta sejatinya ataukah hanya cinta buta. Berikut akan saya paparkan sebuah kisah antara kisah cinta buta dan kisah cinta sejati.

Di sebuah taman kota metropolitan para pekerja yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar. Raungan bunyi ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal ini. Kelihatan beberapa petugas kesehatan begitu sibuk memberi pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah rel kereta api di kota tersebut. Naas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragis dan memilukan.

Apa yang terjadi sebenarnya? Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad membunuh diri dengan menutup jalan kereta api, pada saat itu mereka mengikat diri di rel tersebut. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman dengan kondisi tubuh hancur dilindas kereta api, sehingga begitu sukar pihak yang bertanggung jawab untuk memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu ‘mengharukan’! di dalam rel kereta tersebut ditemui selembar kertas yang telah mereka tandatangani. Antara lain isi kandungannya, “tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan untuk membuktikan cinta abadi kami sehidup semati”. Dan di bagian akhirnya surat tersebut tercatat bahwa mereka melakukan ini demi menyelematkan cinta ‘sejati’ yang ‘suci’ ini, karena orang tua mereka tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah…! Dan masih banyak cerita-cerita seperti ini dimana di berita-berita seorang yang nekat mau meloncat dari atas tower atau gedung bertingkat karena cintanya ditolak atau tidak disetujui. Di FB dipajang di Photo Profile fotonya dengan foto pasangannya dimana si pria mencium si cewek. Membeli kaos/pakaian yang sama. Atau memakai helm yang sama demi cinta. Inilah CINTA BUTA.

Di sebuah rumah jazirah Arab 1400 tahun yang lampau, Abdullah bin Abu Bakar baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berpikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Sudah tentu Abdullah amat mencintai istri yang sangat sempurna menurut pandangan manusia.

Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar lewat di rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama menunaikan shalat berjamaah di masjid. Namun, serta merta beliau mendapati anaknya sedang bermesraan dengan Atikah dengan lembut dan romantis sekali, Abu Bakar pun membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.

Usai menunaikan shalat, Abu Bakar sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar ternyata beliau mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan isterinya persis seperti suasana sebelum beliau menunaikan shalat di masjid.

Kemudian Abu Bakar segera memanggil Abdullah, dan bertanya, “wahai Abdullah, apakah engkau tadi shalat berjamaah?” tanpa berhujjah panjang, Abu Bakar bertanya, “Wahai Abdullah, Atikah telah membuatmu lalai dari kehidupan dan menutup pandangan hidupmu, malah dia juga telah membuatmu melupakan shalat fardhu. Sudah, ceraikanlah dia!” demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah yang meluncur dari mulut beliau, ketika Abu Bakar mendapati anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau mendapati Abdullah sudah mulai sibuk dengan isterinya yang cantik. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona oleh keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya luntur secara demikian memilukan.

Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa membuat dalih, apalagi mencoba bunuh diri, Abdullah pun mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan isteri yang cantik dan amat dicintainya itu. Subhanallah! Inilah CINTA SEJATI

Dari dua kisah di atas, marilah kita sama-sama membuat perenungan tentang hakikat dan bagaimana sesungguhnya cinta sejati dan suci itu. Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair,drama,film,sinetron,lagu, dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi saja. Versi cinta nafsu (syahwat)/buta dan cinta Rabbani. Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana cinta syahwat dan mana cinta Rabbani? Derasnya arus serangan pemikiran dalam kesenian terutamanya, telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta ‘suci’ yang mesti diperjuangkan, dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.

Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragis yang berakhir di ujung pisau atau dalam segelas racun. Mereka semua rela diseret dan dijerumuskan ke dalam lubang ‘neraka’ hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada di sudut hati manusia, itulah cinta. Namun yang mendorong mereka berbuat nekad bukanlah kekuatan cinta sejati, namun justru cinta buta.

Kisah tragis yang pertama tadi memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong makna cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh diri dengan berbagai rasa ini pada dasarnya tidak bisa disebut telah mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah setan laknatullah. Pada momen ini setan bersorak, bergembira-ria, mengibarkan bendera kemenangan, karena berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam ke dalam neraka Jahannam, dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.

Kisah yang kedua Abdullah putera Abu bakar menjadi contoh kematangan pemuda yang mengenal arti cinta. Bayangkan!! Memiliki istri cantik,akhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun ia ceraikan istrinya atas perintah ayahnya karena istrinya telah melalaikan Abdullah dalam menunaikan  hak Allah dan seterusnya membuat lalai dari berjihad di jalan Allah. Abdullah itu melihat perintah ayahnya dengan kacamata cinta yang diberikan Allah dan demi memperoleh keridhaan Dzat Pemberi Cinta. Jiwanya tidak merasa gundah gulana hanya kehilangan cinta duniawi,demi keridhaan Allah sebagai Dzat pemberi ketentraman. Mereka yakin bahwa kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada keridhaan Allah sebagai Pemberi Cinta. Masih adakah pemuda seperti Abdullah di zaman globalisasi ini?

Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga. Manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selaras denga frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada dan seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.

Tergolong yang manakah cinta anda?? Wallahu A’lam.

Semoga bermanfaat.

penulis : Dody Yudho Utomo (alumni Muslim Studi)

Sumber: Sutra Asmara (Abu Umar Basyir).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s