Percayailah yang terbaik

Posted on Updated on

Lelaki itu menyipitkan mata diterjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.

Di pintu biara, Rahib ahli ibadah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tanggannya. Dia letakkan satu dihadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.

“Rahib yang suci,” kata si lelaki. Dia berhenti sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku di ampuni?”

Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”

Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh,” katanya, “Sebanyak Sembilan puluh Sembilan jiwa.”

Hampir saja gelas ditangan sang rahib jatuh. Mata terbelalak dan mulutnya ternganga.

“mungkinkah dosaku diampuni?” lanjut si lelaki sambil menatap harap-harap. Tangannya cemas menggaruki permukaan gelas logam. Dia lalu menunduk menanti sabda.

Tetapi rahib itu memalingkan muka. Rautnya tampak tak suka. Lelaki itu menangkap mimik jijik digaris-garis wajah sang rahib. Sayup dia menggumamkan sebuah ayat dalam taurat. “membunuh satu jiwa sama artinya membinasakan seluruh jiwa, memusnahkan segala kehidupan, Sembilan puluh Sembilan… sungguh dosa yang tak terperikan. Tak terampunkan.”

Entah mengapa si lelaki pembunuh tiba-tiba disergap benci yang bergulung-gulung pada si rahib. Batinnya yang luka dan tersiksa oleh dosa serasa disiram cuka yang memedihkan mendengar gumam itu. Cara rahib itu memperlakukannya, bersikap, berkata-kata, dan menjawab tanya seolah mereka dibatasi dinding tak tertembus. Si  rahib suci, tanpa dosa. Dan dia adalah lelaki hina, najis, tak terampuni.

Sekucup harap yang tadi bersemi , kini gugur disengat api.

Maka sekali lagi syaitan mengalahkannya. Dalam detikan saja, pedangnya telah memenggal si rahib, membelahnya menjadi dua. Dan dia disergap sesal yang jauh lebih menyakitkan. Genap sudah seratus nyawa. Darah sang rahib yang mengalir merah terlihat bagai neraka yang menyala siap membakarnya. Dia bergidik. Dia beringsut mundur. Nafasnya tersengal, jangganya terasa tercekik hebat, keringat dinginnya merembesi baju. Dengan tenaga yang dihimpun sepicak-sepicak. Dia berlari. Terus berlari.

Untuk beberapa waktu dia bersembunyi. Tapi dia tahu, yang dia takuti bukan apa yang ada di luar sana. Yang paling menakutkannya ada di dalam dada. Tak tampak. Tak pernah membiarkannya nyenyak. Tak pernah mengizinkannya hening.

Satu hari dia tak tahan lagi. Diberanikannya menemui orang yang dianggapnya mampu memberi jawab gelisah hatinya. Kali ini bukan rahib yang dipilihnya. Kali ini seorang alim yang didatanginya. Dan lelaki berilmu ini menerimanya dengan senyum tulus.

“Allah itu Maha Pengampun, Saudaraku,” Ujar sang alim ramah.

“Taubatmu pasti diterima. Hanya saja, selain menyesali segala yang telah berlalu dan menebusnya dengan kebaikan-kebaikan, engkau juga harus meninggalka negeri yang selama ini kau tinggali. Pergilah ke negeri lain untuk memulai hidupmu yang baru. Engkau harus berhijrah.”

Lelaki pembunuh itu, kita tahu, benar-benar berhijrah tapi dia mati di perjalanan. Dan malaikat rahmatpun memenangi perdebatannya dengan malaikan adzab. Sebab ketika diukur jaraknya, lelaki sejengkal lebih dekat kearah negeri pertaubatannya. Dia benar-benar telah meninggalkan kejahatannya meski baru sejengkal. Maka Allah memerintahkan agar dia dibawa ke syurga.

Dikutip dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim Al Fillah. Dan kisah ini telah diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, dalam Riyadhus Sholihin, hadist no 21 bab taubat.

 

Dari sudut mana kita melihat, jika sang Rahib lebih tertekan oleh kata “Membunuh”, maka sang Alim lebih terkesan oleh kata “Bertaubat”.  Dan kita belajar dari mereka untuk takut kepada Allah dan tak mudah-mudah memvonis pada sesama hamba. Dan kita belajar untuk mengenali kebaikan yang mengintip, mempercayainya dan memberinya untuk tampil mengemuka. Dan percayailah yang terbaik dari saudara-saudara kita. Dan percayalah bahwa amal-amal kita terlihat dari niat dan tekad yang bulat. Wallahu’alam. (arsyfatih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s